<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539</id><updated>2011-04-21T14:51:26.606-07:00</updated><title type='text'>ID Daily Special Report</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-2614826226669476684</id><published>2008-12-17T03:37:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T03:41:32.598-08:00</updated><title type='text'>Tragedi Bola Bendol</title><content type='html'>Benny Dollo menunjukkan siapa aslinya. Saat terus dicecar wartawan soal peluang Indonesia yang harus menang di partai semifinal kedua Piala Tiger di Bangkok, akhir pekan mendatang, tiba-tiba tensinya meninggi.  Dalam sesi jumpa pers usai pertandingan tadi malam, Bendol –begitu sapaan pelatih asal Sulawesi Utara itu- tiba-tiba mendorong bola yang diletakkan di atas meja jumpa pers dan menggelinding di antara kursi wartawan. Tampaknya ia kesal, sudah tim merah putih kalah 0-1, e.. terus dicecar soal kemungkinan “mission impossible” di Thailand .  Saya sendiri tidak melihat langsung adegan Bendol mendorong bola di ruang konferensi pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya merasa sudah cukup merekam suara Bendol dalam speaker di ruang jumpa pers. Alat rekam MP3 saya matikan, lalu saya nggosip di deretan belakang ruang jumpa pers bersama tiga jurnalis Sindo, kawan lama dari Surabaya. Dan tiba-tiba saya sadar ada keanehan saat bola kuning yang semula manis ditempatkan di depan, ngglundhung di lantai. Gosipan saya hentikan, lalu berseru, “Diancuk… Bendol ngamuk…”  Sebelumnya, dalam rekaman saya, Bendol juga sudah menjawab soal kemungkinan menang di Bangkok bukanlah sebuah “mission impossible”. Saat saya putar rekamannya di rumah Selasa tengah malam, Bendol bilang, “Salah kalau Anda bilang itu misi yang tidak mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sepakbola itu everything can happen. Bola itu bundar, yang penting anak-anak punya nyali seperti pada permainan tadi…”  Rupanya, ungkapan ‘bola itu bundar’ kembali diulangnya saat jurnalis kembali bertanya soal kans menang di Thailand. Hanya saja, mantan bek UMS 80 ini menambahkan kata-kata, “Bola itu bundar.. seperti ini…” Maka, menggelindinglah bola itu ke deretan kursi jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benny Selvianus Dolo yang dilahirkan di Manado 22 September 1950 memang seperti itu. Keras, dan seolah ngamukan. Dua tahun lalu, saya pernah menyaksikannya memimpin latihan Arema di Hotel Kusuma Agrowisata Batu. Ia berteriak keras, “Hei, kalau pegang bola jangan seperti pemain amatir…” Teriakan itu sangat keras, sampai terdengar ke tepi lapangan, padahal ia, yang melatih dengan involved langsung –bercelana pendek di tengah lapangan- berada puluhan meter dari sisi saya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, terbukti, teriakan itu tak sia-sia. Tak lama kemudian, Arema sukses mempertahankan gelar Coppa Indonesia dua kali berturut-turut, prestasi yang menjadi jualan curriculum vitae Bendol untuk menjadi pelatih timnas menyisihkan nama Rahmad Dharmawan.  Ya, mau ngamuk atau merasa diremehkan, terserah saja om Benny… tapi kita berharap acara melempar bola ke depan wartawan di sesi jumpa pers itu bukan untuk pembenaran dan berkilah dari kekalahan. Buktikan di Bangkok, Sabtu nanti, om, bola itu bundar…  Kalau tidak, Anda yang akan dilempar…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-2614826226669476684?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/2614826226669476684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=2614826226669476684' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/2614826226669476684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/2614826226669476684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2008/12/tragedi-bola-bendol.html' title='Tragedi Bola Bendol'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-146715092078233142</id><published>2008-08-31T13:48:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T13:49:15.425-07:00</updated><title type='text'>Jejak-jejak Putra Sang Fajar yang Menghilang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://iddaily.co.cc/"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/SEOFwLUvSYI/AAAAAAAABXA/7LTumjBkCiw/s400/kecil_BK_sekolah_sby_1920.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207152656890415490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Feature Kelahiran Soekarno, 6 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman D Nugroho&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nama besar Proklamator RI Ir. Soekarno tidak bisa dilepaskan dari Jawa Timur. Provinsi tempat Ia lahir, kenal dengan dunia politik untuk pertama kali, dan sekaligus menjadi tempatnya bersemayam ini menyimpan banyak kenangan atas Soekarno. Berikut ini penelusuran &lt;a href="http://idnugroho.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Iman D. Nugroho&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; di beberapa lokasi yang pernah ditinggali sosok yang mendapatkan julukan Putra Sang Fajar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, rumah di Jl. Pandean IV no. 48 Surabaya itu memang tidak istimewa. Ruang tamunya berbatasan langsung dengan gang seluas empat meter. Tembok depannya kusam, cat mengelupas di beberapa bagian. Rembesan air menciptakan bekas di plafon, berpadu dengan kusen pintu dan jendela yang berbeda warna. Namun, rumah berukuran 18x7 meter itulah disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Proklamator RI Soekarno pada 6 Juni 1901.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi kelahiran Soekarno di Jl. Pandean  Surabaya memang bukan hal baru. Setidaknya, dua buku biografi terkemuka tentang Soekarno Penyambung Lidah Rakyat karangan Cindy Adam dan Putra Sang Fajar karangan Shohirin menyebut Surabaya sebagai tempat kelahiran tokoh yang pada awalnya bernama Koesno itu, dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku itu hadir saat Soekarno masih hidup, dan Soekarno tidak membantahnya, bisa jadi hal itu adalah kebenaran,” kata Budi Kastowo, Penjaga Museum dan Perpustakaan Soekarno di Blitar. Ketidakjelasan masyarakat pada tempat lahir Soekarno dikarenakan Soekarno tidak lama tinggal di Surabaya. Pada usia 2 tahun, Koesno mengikuti kepindahan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai ke Mojokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pasti benar lokasi rumah ke-2 ini. Hanya disebutkan, rumah Koesno seringkali terkena banjir bandang dari Sungai Brantas yang melintas di Mojokerto. Besar kemungkinan, rumah itu berada di bantaran Sungai Brantas. Saat itu, Koesno kecil sering sakit-sakitan. Kebudayaan Jawa menyebutkan, salah satu upaya penyembuhan yang bisa dilakukan pada Koesno kecil adalah dengan ditirah atau dititipkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sang kakek Raden Hardjodikromo di Tulungagung menjadi pilihan. Di rumah yang terletak di kawasan Kepatihan Tulungagung (kini Jl. Mayjend Surapto, Kota Tulungagung) itulah Koesno kecil mendapatkan perawatan. Yakni dengan pengobatan tradisional tirah Jawa. Caranya, Raden Hardjodikromo tidur di lantai, sementara Koesno di atas ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dilakukan tiap malam. Hingga akhirnya Hardjodikromo mendapatkan wangsit untuk mengubah nama Koesno dengan nama Karno atau Soekarno. Sejak saat itu, kondisi Soekarno kecil mulai membaik, dan bersekolah di Inlander School hingga umur 11 tahun. Europe Lagere School (ELS) di Mojokerto menjadi pilihan Soekarno kemudian. Empat tahun kemudian, atau pada 1915, Soekarno yang sudah beranjak dewasa melanjutkan pendidikan di Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah, Soekarno berkenalan dengan Haji Oemar Said Tokroaminoto (HOS) Tjokroaminoto, bapak kos yang juga ketua Syarikat Islam (SI). Tjokroaminoto memperkenalkan Soekarno dengan wacana-wacana kebangsaan dan semangat perlawanan kepada penjajah Belanda. Semaun, Moeso, Darsono dan Alimin yang juga menuntut ilmu di HBS menjadi teman diskusi. Hingga tahun 1926, Soekarno melanjutkan pendidikannya di sekolah teknis THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi), cikal bakal Institut Teknologi Bandung-ITB dan lulus tahun 1926, serta berkiprah di dunia politik nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak-jejak Soekarno di Jawa Timur memang tidak sebanding dengan kiprah politik setelah dia dewasa, hingga menjadi Presiden Pertama RI 1945-1966. Ketika kecil, Koesno atau Soekarno memang bukan “siapa-siapa”. Hanya anak kecil biasa yang sakit-sakitan. Bahkan, kelahiran Soekarno di Surabaya pun tidak banyak yang tahu. “Kalau tidak salah lahirnya di Blitarkan?” tanya Ashari, 75. Ashari adalah penduduk asli Jl. Pandean, Surabaya. Kepada The Jakarta Post ia mengaku pernah mendapatkan cerita dari Ibunya, Almarhum Asyiah tentang sosok Soekarno. “Seingat saya, memang ibu pernah bercerita tentang Bung Karno, dulu dia tinggal di Pandean bersama Ibu Inggit (istri ke-2 Soekarno),” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Soekarno tinggal di Pandean, kenang Ashari, tetangga bagian depan ditempati sebagai sekretariat Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). KBI adalah organisasi pemuda di bawah Partai Nasional Indonesia (PNI), partai politik yang didirikan Soekarno. Berbagai aktivitas politik dilakukan di tempat itu. “Sejauh itu yang saya ingat, soal kelahiran Bung Karno, saya sama sekali tidak mengetahui,” kata Ashari yang tinggal enam rumah di sebelah timur tempat kelahiran Soekarno itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang Soekarno itu berhenti, saat Aisyiah meninggal dunia. Apalagi, ketika rumah kelahiran Soekarno itu dijual. Saat ini, rumah itu milik Jamila, yang merupakan “tangan ke empat”. Perempuan yang tinggal bersama suami dan kakaknya itu sama sekali tidak memiliki hubungan saudara dengan Soekarno. Saat The Post mengunjungi rumah itu, Jamila sedang tidak ada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat kos Soekarno saat bersekolah di HBS yang juga (HOS) Tjokroaminoto masih berdiri di Jl. Peneleh gang VII Surabaya. Rumah sederhana berbentuk joglo khas Jawa Timur itu saat ini dikelola oleh Pemkot Surabaya dan ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya. Warna dinding, tembok dan pagar yang masih bagus menandakan rumah tempat Soekarno mengenal politik untuk pertama kalinya itu masih dijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak Soekarno juga “menghilang” di Mojokerto, yang berjarak sekitar 30 Km dari Surabaya. Hingga saat ini, tidak ada yang tahu lokasi tempat tinggal Soekarno di daerah yang dikenal sebagai lokasi Kerajaan Majapahit itu. Yang masih tersisa hanya tempat tinggal ke-3 Soekarno di Tulungagung, rumah Raden Hardjodikromo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang kini terletak di Jl. Mayjend Surapto, Kota Tulungagung itu kosong, tidak berpenghuni. Penduduk sekitar rumah itu mengenal rumah itu sebagai rumah Eyang Hardjo. “Itu memang rumah eyang (Hardjo-RED), yang juga kakek Bung Karno,” kata Joko, penduduk setempat. Joko mengingat, rumah itu sudah lama kosong dan dalam kondisi dijual. “Kata orang-orang, keluarga eyang sudah tidak ada,” kata Joko pada The Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain rumah, yang masih tersisa dari jejak Soekarno di Tulungagung adalah makam Raden Hardjodikromo di pemakaman Kepatihan, 1 Km dari rumahnya. Di makam itu, Raden Hardjodikromo “berkumpul” dengan kerabatnya, dalam satu komplek makam berjumlah 14 buah. “Makam ini jarang sekali dikunjungi, hanya beberapa tahun lalu saja keluarga Soekarno datang untuk berziarah,” kata Sabar, juru kunci makam Raden Hardjodikromo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Kastowo, Penjaga Museum dan Perpustakaan Soekarno di Blitar mengatakan, rasa memiliki Soekarnolah yang membuat “jejak-jejak” Proklamator itu masih dirasakan kental di Jawa Timur. Meskipun secara fisik, terkadang rumah, sekolah atau tempat-tempat yang pernah didiami Soekarno tidak lagi ada, namun semangat tokoh kelahiran 6 Juni itu masih terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contohnya adalah Istana Gebang di Blitar. Menurut sejarahnya, Soekarno tidak pernah lama tinggal di rumah itu. “Memang, kedua orang tua Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai tinggal di situ, namun, Soekarno tidak,” katanya. Rumah yang kemudian dihuni oleh Soekarmini, kakak Soekarno, itu diidentikkan dengan sosok Bung Karno. Pada bulan Juni, Kota Blitar selalu semarak dengan acara Haul (Hari Ulang Tahun) Soekarno. Istana Gebang menjadi sentra kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Istana Gebanglah, pernah-pernik berbau Soekarno disimpan. Mulai foto Soekarno dengan ayah-ibu dan kakaknya, foto semasa muda, patung hingga kamar yang lengkap dengan perabotan asli milik bapak delapan anak itu. Karena alasan itu jugalah, banyak pihak “berteriak”, ketika Istana Gebang berencana dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kata Budi, kota yang membesarkan Soekarno itu adalah Surabaya dan Bandung. Di Surabayalah, Soekarno mulai berpolitik. Dan di Bandung, sosok yang dikenal memiliki sembilan istri itu mematangkan pengetahuan politik dan mulai membangun jaringan bersama kaum seperjuangan lainnya. Pada akhirnya, mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927, merumuskan Pancasila pada 1 Juni 1945 dan bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. “Bung Karno kembali “tinggal” di Blitar, usai meninggal dunia 21 Juni 1970,” kata Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-146715092078233142?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/146715092078233142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=146715092078233142' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/146715092078233142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/146715092078233142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2008/08/jejak-jejak-putra-sang-fajar-yang.html' title='Jejak-jejak Putra Sang Fajar yang Menghilang'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/SEOFwLUvSYI/AAAAAAAABXA/7LTumjBkCiw/s72-c/kecil_BK_sekolah_sby_1920.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-5902739614911663115</id><published>2007-03-07T08:45:00.000-08:00</published><updated>2007-03-07T08:50:22.881-08:00</updated><title type='text'>Arca Prasejarah Berserakan di Kediri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFK1L1E46I/AAAAAAAAAAw/pjQFhxBz7vY/s1600-h/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim2.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFK1L1E46I/AAAAAAAAAAw/pjQFhxBz7vY/s320/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035388135945855906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sosok Dewa Brahma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantaman mata ganco Maksum terhenti, ketika ujung mata alat pemecah batu itu menghantam sebuah benda keras. Detak jantung laki-laki warga Besuk, Kediri Jawa Timur itu pun seakan terhenti. "Semua gambaran yang saya lihat di mimpi itu ternyata benar, ada sesuatu di dalam tanah," kata Maksum, pada The Jakarta Post, mengawali kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan, laki-laki berusia 48 tahun itu menggali tanah di sekitar batu itu dengan tangannya. Bentuk asli batu yang ternyata berupa mahkota itu mulai terlihat. "Saya segera memanggil teman-teman dan meminta mereka ikut membantu. Tak lama setelah itu bentuk patung dengan empat kepala pun terlihat, itu patung Dewa Brahma," kenang Maksum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian Sabtu (20/01) sore sekitar pukul 17.00 WIB itu hingga kini masih terbayang dibenak laki-laki yang berprofesi sebagai kuli angkut pasir ini. Karena saat itulah momentum di mana pertama kali Maksum membuktikan wangsit yang didapatkannya dalam mimpi itu menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFLCL1E47I/AAAAAAAAAA4/qm0q4kXw70A/s1600-h/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFLCL1E47I/AAAAAAAAAA4/qm0q4kXw70A/s320/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035388359284155314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reruntuhan Sendang Tirta yang hingga kini masih mengeluarkan air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERAWAL DARI BISIKAN GAIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksum menceritakan, beberapa malam sebelum ditemukannya patung Dewa Brahma itu, Maksum selalu bermimpi diajak jalan-jalan oleh seorang laki-laki berpawakan keturunan India. Sosok yang diyakini sebagai perwujudan Dewa Brahma itu mengajak Maksum berjalan-jalan di persawahan di Desa Gayang, Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri yang selama ini merupakan lokasi tempatnya bekerja sebagai kuli angkut pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anehnya kawasan tempat saya bekerja itu, di dalam mimpi saya berubah menjadi kawasan kerajaan, lengkap dengan istana, hingga tempat pemandian raja beserta anak-anaknya," keta Maksum. Di mata laki-laki yang kini lebih banyak mengenakan udeng (penutup kepala khas Jawa) ini, keindahan kerajaan itu membuatnya enggan untuk kembali ke "dunia" nyata. "Mungkin ini tampak seperti khayalan, tapi hal itulah yang saya impikan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mimpi itu, Dewa Brahma mengatakan bahwa dirinya akan "terlahir" kembali menjelang malam tahun baru Jawa atau yang dikenal sebagai Malam Satu Suro. "Saya tidak pernah mengatakan hal ini kepada siapa pun, karena saya yakin, tidak akan ada orang yang mempercayai cerita saya, hingga akhirnya patung Dewa Brahma saya temukan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Brahma pun diangkat dari dalam tanah. Patung berbentuk orang yang sedang bermeditasi itu memiliki tinggi sekitar satu meter, dengan dasar patung berbentuk persegi empat. Empat kepala patung menghadap ke empat penjuru berbeda berpadu dengan ornamen-ornamen jaman kerajaan yang terpahat di sekitar patung. Sebuah ceret wadah air terdapat di sebelah kiri patung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemukannya Patung Dewa Brahma memicu pencarian patung yang lain. Dengan bersemangat, warga menggali tanah di sekitar lokasi penemuan Patung Dewa Brahma. Dalam waktu kurang dari satu bulan, beberapa patung pun ditemukan. Mulai patung Lembu Andini atau Nandi yang ditemukan sebelah selatan patung Dewa Brahma, Patung Dewi Durga Mahesa Sura Mandini ditemukan tergeletak di sebelah timur patung lembu Andini. "Juga ada patung Lingga berbentuk persegi panjang yang posisinya agak jauh," kata Maksum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFLNL1E48I/AAAAAAAAABA/hOCz_EmWCno/s1600-h/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim1.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFLNL1E48I/AAAAAAAAABA/hOCz_EmWCno/s320/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035388548262716354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penduduk desa sedang membersihkan arca prasejarah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERUS DITELITI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan berbagai arca prasejarah di Kediri "memaksa" Balai Penyelamatan Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan untuk melakukan penelitian. Sebuah tim penelitian pun diberangkatkan lokasi penemuan untuk melakukan rekonstruksi penemuan arca dan kemungkinan adanya penemuan lain. Penelitian itu sekaligus membuktikan keaslian arca yang sempat diduga sebagai arca palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk arca yang bila dilihat dengan mata telanjang tampak seperti baru. Beberapa warga Kabupaten Kediri yang menyaksikan dari dekat arca itu memiliki keraguan tentang keaslian arca sebagai barang bersejarah. "Bentuknya seperti patung baru, hal itu terlihat dari pinggir patung yang masih bersih dan jenis batunya," kata Eddy, warga Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, proses penelitian itu pun terkendala. Tim peneliti yang datang ke lokasi penemuan arca, Jumat (16/02) lalu dan membawa tiga patung, Dewa Brahma, Lembu Andini dan Dewi Durga Mahesa Sura Mandini, ditolak oleh warga. Warga khawatir patung-patung itu akan ditukar dengan patung serupa namun palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses dialog pun dilakukan. Hingga akhirnya warga hanya mengijinkan tim untuk membawa satu patung. Dengan syarat, tim BP3 me membuat surat pernyataan akan mengembalikan arca tersebut setelah dua minggu. "Jumat ini Patung Dewa Brahma akan dikembalikan ke Desa Gayam," kata Maksum, penemu patung Dewa Brahma pada The Post. Setelah patung Dewa Brahma dikembalikan, tim BP3 diperkenankan untuk meneliti patung yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, penelitian oleh tim BP3 masih dilakukan di kantor BP3 Trowulan Mojokerto. Prapto Saptono, Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan BP3, Trowulan, Mojokerto menjelaskan, penelitian itu akan berlanjut dengan penelitian yang lain. "Saat ini penelitian masih dilakukan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFLar1E49I/AAAAAAAAABI/ErMQigxGn-0/s1600-h/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim3.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFLar1E49I/AAAAAAAAABI/ErMQigxGn-0/s320/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035388780190950354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ratusan orang terus berdatangan ke lokasi ditemukannya arca.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFLkL1E4-I/AAAAAAAAABQ/SymCD5vR7nE/s1600-h/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim5.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFLkL1E4-I/AAAAAAAAABQ/SymCD5vR7nE/s320/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim5.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035388943399707618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Patung Lembu Andini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAPATAN SAMPINGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita pun menyebar. Penduduk kabupaten yang terkenal dengan produksi Tahu Kediri ini berbondong-bondong menyaksikan penemuan itu. Media lokal di daerah berjarah sekitar 150 KM dari Surabaya pun memblowup pemberitaan itu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, daerah yang awalnya sepi dan terpencil itu pun berubah menjadi ramai oleh penduduk yang lalu lalang ke daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lokasi penemuan, yang berada di kawasan perkebunan tebu itu dipenuhi dengan pedagang kaki lima. Berbagai permainan khas pun ambil bagian. "Ini adalah berkah bagi masyarakat sekitar, dengan adanya pasar rakyat ini, banyak penduduk desa yang awalnya menganggur atau tidak ada pekerjaan selain waktu panen tiba, menjadi ada pekerjaan sampingan," kata Suwono, salah satu penduduk desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memasuki daerah arca pun ditemukan, pengunjung harus membayar Rp.1000,- per orang. Untuk penitipan sepeda motor, penduduk sekitar mematok harga Rp.2000,-/sepeda motor. Ketika memasuki areal arca, pengunjung pun diminta memberikan sumbangan seikhlasnya. Biasanya pengunjung memberikan Rp.1000/rupiah. Selain itu, ada air bertuah sumber dari Sendang tirto. Untuk mendapatkan satu plastik air, pengunjung diharapkan memberikan sumbangan Rp.1000 rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu sehari, bisa terkumpul sampai Rp.200 ribu. Jumlah itu bisa meroket ketika hari minggu tiba. Dalam waktu satu bulan, dana yang terkumpul dan diberikan ke khas desa bisa mencapai Rp.4 juta/bulan. Itu pun sudah dipotong honor masing-masing pengelola. "Semua pendapatan ini adalah seikhlasnya, dan digunakan untuk khas desa," kata Suwono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFLub1E4_I/AAAAAAAAABY/Nqpv1OJSoaA/s1600-h/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim7.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFLub1E4_I/AAAAAAAAABY/Nqpv1OJSoaA/s320/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim7.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035389119493366770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pengunjung berdoa di sekitar Arca Syiwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFL-L1E5AI/AAAAAAAAABg/81W9NDB71W0/s1600-h/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim11.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFL-L1E5AI/AAAAAAAAABg/81W9NDB71W0/s320/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim11.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035389390076306434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gambar keenam arca prasejarah dijual kepada pengunjung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-5902739614911663115?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/5902739614911663115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=5902739614911663115' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/5902739614911663115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/5902739614911663115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2007/03/arca-prasejarah-berserakan-di-kediri.html' title='Arca Prasejarah Berserakan di Kediri'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ReFK1L1E46I/AAAAAAAAAAw/pjQFhxBz7vY/s72-c/Resize+of+Penemuan+Arca+Prasejarah-Kediri+Jatim2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-985757085088344121</id><published>2007-03-07T08:40:00.000-08:00</published><updated>2007-03-07T08:41:30.546-08:00</updated><title type='text'>Kondom Perempuan, Upaya Melindungi Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/1600/76700/kecil-Kondom%20Perempuan2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/320/455717/kecil-Kondom%20Perempuan2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Raut muka Eva Yuliawati mendadak berubah ketika dirinya melihat contoh kondom perempuan untuk pertama kali. Pelan-pelan ibu rumah tangga dua anak itu menjinjing kondom bermerk Fiesta itu dan memperhatikannya lebih dekat. "Apa kondom ini yang harus saya masukkan ke vagina? Apa tidak sakit?" katanya singkat sambil memperhatikan benda lembek itu dari segala arah. "Kayaknya terlalu besar," komentarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondom perempuan memang bukan barang baru di Indonesia. Di akhir tahun 90-an, alat kontrasepsi yang di desain khusus untuk perempuan itu sudah dikenal. Hanya saja, karena peminatnya belum banyak ditambah harga yang cukup mahal, kondom perempuan sulit ditemui di apotik atau toko obat. Untuk mendapatkannya, bisa membeli ke toko obat atau sex shop di luar negeri yang membuka sistem jual beli secara online di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin (5/02) ini, dalam forum Pertemuan Nasional HIV&amp;AIDS di Surabaya, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Abu Rizal Bakrie melaunching kondom perempuan. Produk itu pertama kali dipasarkan oleh Yayasan DKT, bekerja sama dengan Sutra dan Fiesta Jakarta. Yayasan DKT adalah sebuah yayasan sosial yang berafiliasi dengan DKT International. Yayasan ini concern dengan penanggulangan masalah yang terkait HIV &amp; AIDS. Salah satu strategi yang digunakan adalah mensosialisasikan kondom "laki-laki" dengan jargon safety can be fun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kondom laki-laki, kondom perempuan memiliki bentuk fisik yang lebih rumit. Dengan panjang 17 cm dan diameter 6,6-7 cm, kondom ini dibuat dari bahan latex. Di bagian depan terpasang segitiga pengaman dari karet yang dibuat sebesar dinding vagina. Di bagian dalam kondom terpasang busa/spon dengan aroma vanila. Barang ini dijual seharga Rp.20 ribu/2 biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/Re1VtUlyRBI/AAAAAAAAAC8/caDmYoxDxA8/s1600-h/klip_your_adv.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/Re1VtUlyRBI/AAAAAAAAAC8/caDmYoxDxA8/s320/klip_your_adv.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5038777795207119890" /&gt;&lt;/a&gt;Yayasan DKT melalui pimpinannya Pierre Frederick mengakui tidak mudah memperkenalkan kondom perempuan. Berbagai persoalan,  mulai image bahwa kondom hanya untuk laki-laki hingga anggapan tidak nikmatnya menggunakan kondom dalam berhubungan seks, menjadi kendala. "Belum lagi soal habit pengggunaan kondom yang secara psikologis bisa membuat si pemakai merasa tidak nyaman dan merasa rendah diri," kata Pierre Pada The Jakarta Post. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dibalik itu pemakaian kondom sangat berguna. Kondom perempuan ini salah satu tujuan pembuatannya adalah memberi kuasa kepada perempuan untuk melindungi diri sendiri. "Seperti banyak kita ketahui, banyak perempuan yang terposisikan sebagai orang kedua, padahal mereka yang mengalami kerugian, seperti perkosaan, hamil di luar nikah dan tertular HIV," kata Pierre pada The Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, secara sosial perempuan menjadi pihak yang tidak punya kuasa memilih. Termasuk menentukan kapan akan melakukan hubungan seksual termasuk apakah hubungan seksual itu dilakukan dengan menggunakan kondom atau tidak."Selama ini, laki-laki yang menentukan apakah akan memakai kondom atau tidak, kondom perempuan merubah semua itu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat Haryono dari Badan Penanggulangan Napsa dan AIDS Provinsi Jawa Timur menilai, hingga saat ini, penggunaan kondom paling efektif untuk menanggulangi HIV &amp; AIDS. Terutama pada kelompok masyarakat resiko tinggi, seperti pekerja seks. "Sekitar 20-30 persen penularan HIV&amp;AIDS itu karena tidak menggunakan kondom, tapi ironisnya, pekerja seks (yang mayoritas perempuan) bukan dalam posisi yang menentukan penggunaan kondom atau tidak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal itu, Rahmat menilai kondom perempuan sangat efektif bila disosialisasikan kepada pekerja seks. "Kalau pengguna pekerja seks tidak bersedia menggunakan kondom, maka pekerja seks bisa punya inisiatif untuk melindungi dirinya dari penularan HIV&amp;AIDS dengan memakai kondom perempuan," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan selanjutnya, bersediakah perempuan menggunakan kondom? Pertanyaan Eva Yuliawati agaknya bisa menjadi representasi jawaban. Eva merasa kondom perempuan itu memiliki ukuran yang terlalu besar. Terutama diameter busa/spon di ujung kondom. "Meskipun kondom itu ada gel melumasnya, namun tetap saja ukurannya terlalu besar, saya khawatir ada rasa sakit saat mengenakannya," kata Eva pada the Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus (bukan nama sebenarnya), salah satu aktivis HIV&amp;AIDS yang mengaku sudah "mencoba" menggunakan kondom perempuan bersama istrinya mengaku menemui berbagai kendala. Panjang kondom yang dinilai terlalu pendek, justru menyulitkan Agus ketika berhubungan seks. Termasuk adanya busa/spon di ujung kondom perempuan. "Maaf saja, sakit rasanya ketika istri saya menggunakan kondom perempuan itu, begitu juga ketika berusaha melepasnya," kata Agus pada The Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-985757085088344121?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/985757085088344121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=985757085088344121' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/985757085088344121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/985757085088344121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2007/03/kondom-perempuan-upaya-melindungi.html' title='Kondom Perempuan, Upaya Melindungi Perempuan'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/Re1VtUlyRBI/AAAAAAAAAC8/caDmYoxDxA8/s72-c/klip_your_adv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-4797713447233206598</id><published>2007-03-07T08:38:00.000-08:00</published><updated>2007-03-07T08:39:30.880-08:00</updated><title type='text'>Reyog, Seni Rakyat Penjaga Tradisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/1600/397324/Kecil-Bujang%20Ganong%20Tari.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/320/929566/Kecil-Bujang%20Ganong%20Tari.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Patih Bujang Ganong meliuk-liukkan tubuhnya. Mencoba menghindar dari sergapan Singo Barong dan Dhadhak Merak. Sembari ketakutan, sosok bermuka merah dengan rambut acak-acakan di depan wajahnya itu berlari-lari menuju Raja Kelana Sewandana, yang sedang gundah gulana menanti cinta Putri Songgo Langit, Putri Raja Kerajaan Kediri. Mendapat laporan sang patih, Kelana Sewandana pun murka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senjata pusaka cemeti Pecut Samandiman pun diraih, dan digunakan Kelana Sewandana untuk menghajar Singa Barong dan Dhadhak Merak. Dua binatang yang awalnya ganas dan beringas itu pun tunduk. Dengan satu lecutan, Kelana Sewandana mengutuk mereka menjadi Reyog, binatang berkepala dua. Mitos awal mula bersatunya Singo Barong dan Dhadhak Merak itu diabadikan dalam pagelaran Reyog asal kota Ponorogo, kemudian dikenal sebagai Reyog Ponorogo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jelas benar, kapan pertama kali kesenian Reyog Ponorogo dimainkan. Yang pasti, kesenian yang awalnya adalah kesenian rakyat itu selalu hadir dalam event-event khusus dan menjadi ikon kota seluas 1.402 m persegi itu. Terutama event pergantian tahun Jawa atau Grebeg Suro, yang sekaligus bersamaan dengan pergantian tahun Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007 ini, Grebeg Suro di Jawa Timur dirayakan, 15-20 Januari. Hampir di setiap kota di Jawa Timur yang masih kental nuansa mengusung budaya Jawa, merayakan Grebeg Suro. Seperti di Mojokerto, Malang, dan tentu saja Ponorogo. Dibanding dengan peringatan Grebeg Suro di berbagai kota, peringatan di Ponorogo sedikit berbeda. Di tempat ini ada budaya Pesta Rakyat Reyog Ponorogo yang digelar secara massal, pawai kota, jamasan dan larung sesaji di Danau Ngebel. Semua dilaksanakan dalam satu rangkaian pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Reyog Ponorogo tahun ini diikuti oleh 31 kelompok Reyog yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai Lampung Propinsi Lampung, Tanjung Pinang Kepulauan Riau, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kutai Kertanegara, Jawa Tengah dan Ponorogo. "Respon yang begitu banyak membanggakan kami sebagai pelaksana," kata Bambang Wibisono, Kepala Dinas Kesenian Kabupaten Ponorogo pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alun-alun Ponorogo bagaikan panggung raksasa pelaksanaan festival itu. Selama empat hari, masing-masing kelompok Reyog beradu keindahan gerak dan alunan musik tradisional Jawa dengan hentakan Ponorogoan. Kempul, Ketipung, Kenong, Angklong, gong dan selompret bertalu-talu. Seakan memacu goyang garang penari Reyog. Masyarakat pun menyemut, menyaksikan aksi Patih Bujang Ganong dan Kelana Sewandana melawan Singo Barong dan Dhadhak Merak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pergantian tahun Jawa adalah puncak Grebek Suro. Masyarakat Ponorogo menyambut kedatangan tahun barunya dengan pawai besar-besaran di seluruh pelosok kota. Sekaligus mengenang perpindahan pemerintahan dari Kota Lama di pinggiran Ponorogo, menuju Kota Baru di Kantor Kabupaten. Diawali dengan penyerahan pusaka kota ke makam Bupati pertama Ponorogo, Betoro Katong, ratusan orang bergerak ke pusat kota. Bendi dan kuda hias menjadi tunggangan. Kota yang terkenal dengan tradisi Warok/Pasukan kerajaan ini pun berpesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/1600/145067/Kecil-melihat%20kendaraan%20hias.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/320/157868/Kecil-melihat%20kendaraan%20hias.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Puluhan ribu orang berjajar di jalanan Ponorogo. Mereka menyambut iring-iringan benda pusaka dan pengiringnya, bagai menyambut pasukan perang yang datang ke kota mereka. Tepuk tangan dan sorak sorai membahana ketika tiba rombongan yang menjadi idola. "Saya paling suka dengan rombongan yang menghias diri sebagai Reyog raksasa," unkap Nardi, salah satu penduduk Ponorogo di sela-sela pawai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tengah malam, ribuan orang menyemut di alun-alun Ponorogo. Menyambut kedatangan tahun baru yang ditunggu-tunggu. Di pusat kota itulah, puncak perayaan pergantian tahun berlangsung. Pangung besar di ujung selatan alun-alun menjadi pusat perayaan. Di sekelilingnya, ratusan pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Berdampingan dengan sajian komedi putar. Semburan ratusan kembang api mewarnai langit, ketika tahun jawa 1939 resmi berganti menjadi 1940. "Semoga Ponorogo menjadi Kota Mukti Mibowo (berwibawa-red)," kata Bupati Ponorogo Muhadi Suyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/1600/797411/Kecil-Larung%20Sesaji%20dan%20Doa%20danau%20ngebel.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/320/250675/Kecil-Larung%20Sesaji%20dan%20Doa%20danau%20ngebel.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Usai sudah pesta pora. Saatnya seluruh berdoa. Di Danau Ngebel, doa terpanjatkan dengan diadakannya larung sesaji dan risalah doa. Di danau berjarak 25 KM dari pusat kota itu, kemeriahan upacara pergantian tahun berganti dengan keheningan doa kepada Sang Kuasa. Tumpeng raksasa setinggi dua meter dan doa-doa, menjadi tanda prosesi larung sesaji. Setelah diarak, tumpeng raksasa dan kotak doa dinaikkan perahu bambu, dan di tenggelamkan di tengah danau. Diiringi hentakan musik Reyog bertalu-talu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MOLOG SANG EMPU REYOG&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Certificated of Appreciation presented to Haryokemun Al Molog, by the Smithsonian Institution Office of Folklife Program in official of recognition of participation in 25th Annual Festival of American Folklife...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan kalimat itu begitu membanggakan bagi Haryokemun Al Molog, seorang seniman senior pembuat Reyog. Bagaimana tidak, kalimat yang tertuang dalam piagam penghargaan yang diberikan oleh the Smithsonian Institution itu adalah bukti dirinya adalah seniman pembuat Reyog tingkat dunia. "Saya sendiri yang datang ke Washington atas undangan Smithsonian," katanya, Minggu (21/01) ini, mengawali pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/1600/595874/Kecil-Pal%20Molog%20Reyog.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/320/161148/Kecil-Pal%20Molog%20Reyog.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Haryokemun Al Molog bisa jadi merupakan Empu (pembuat) Reyog terakhir yang ada di Ponorogo Jawa Timur. Sejak dirinya berumur 7 tahun, laki-laki yang kini berumurnya 83 tahun itu sudah menggeluti profesi pembuat Reyog. Ilmu membuat Reyog dipelajarinya dari almarhum kakek dan ayahnya. "Sejak kecil saya dan keempat saudara saya sudah bisa membuat Reyog, tapi hanya saya yang meneruskan profesi kakek dan ayah saya itu," kata Molog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergelut dengan Reyog, bagi Molog adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan. Terlebih ketika hal itu mampu membuat orang lain senang. Apalagi, kesenangan itu bisa menjelma menjadi mata pencaharian. "Senang rasanya, karya-karya saya dipesan orang dan ketika Reyog dimainkan, banyak orang yang menonton, meskipun tidak semua orang tahu saya yang membuat Reyog itu haha,.." katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tanggung-tanggung, sudah tidak terhitung lagi karya Molog yang dipesan seniman dan pencinta kesenian Reyog hampir dari seluruh Indonesia. Setahun, minimal empat paket lengkap Reyog dipesan orang. Satu paket, terdiri dari Reyog, Kuda Kepang, Topeng Bujang Ganong, Probo, Cemeti Samandiman, Angklung, Gong, kenong hingga Selompret. "Satu paket standart saya jual dengan harga Rp.27 juta, kalau istimewa, bisa sampai Rp.45 juta," katanya. Yang membedakan dua jenis paket itu adalah detil penggarapan dan ukiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak gampang membuat Reyog," katanya. Caplokan kelapa Reyog adalah hal pertama yang digarap. Bagian inti dari kepala Barong dan Dadak Merak itu dibuat dari jenis kayu dadap, kemudian dibungkus kulit kepala Harimau serta dihias dengan kepala, kaki dan bulu-bulu burung Merak. "Sesuai permintaan, semua bisa disajikan dengan kulit kepala Harimau dan Burung Merak Asli," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit kepala Harimau didatangkan khusus dari Riau. Sementara bulu burung Merak diimport langsung dari India. "Saya mementingkan kulit Harimau dari Harimau yang mati tua, bukan mati dibunuh. Karena saya sadar, kalau banyak Harimau dibunuh, maka lama-lama saya tidak akan bisa membuat Reyog lagi, karena Harimau akan habis," tegasnya. Setelah itu, baru dibuat krakap (hiasan di atas kepala Reyog). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan satu paket Reyog, memerlukan waktu kurang lebih satu bulan lamanya. Molog mempunyai enam pekerja yang memiliki spesifikasi tersendiri. Mulai membuat pakaian, barang-barang pelengkap Reyog hingga pernak-pernik asesoris. "Membuat Reyog khusus saya yang mengerjakan, karena saya masih belum berani memberi kepercayaan pekerja saya untuk mengerjakannya," kata Molog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, ada hitung-hitungan mistik dalam pembuatannya. Molog mengaku menjunjung tinggi kebiasaan itu karena dirinya percaya semua hitung-hitungan Jawa punya makna. "Untuk memotong kayunya saja, ada hitungan Jawa tersendiri, termasuk melakukan laku puasa sebelum saya membuat Reyog," kata mantan juri dalam festival Reyog nasional ini. Reyog hasil garapannya pun berbeda. Banyak orang bilang, Reyog karya Molog terlihat lebih indah dan menarik mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, keteguhan Molog dalam mempertahankan nilai-nilai keluruhan Reyog itu tidak menurun secara khusus kepada keempat anak-anaknya. Tiga anak perempuannya memiliki keahlian menjahit asesoris Reyog, sementara anak laki-laki dan menantunya sekedar tahu proses membuatnya. "Semoga saja, kalau saya sudah tidak ada bisa diteruskan oleh anak-anak dan keluarga saya," katanya. Semoga ini bukan akhir garis keempuan Molog, sang empu Reyog,...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-4797713447233206598?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/4797713447233206598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=4797713447233206598' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/4797713447233206598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/4797713447233206598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2007/03/reyog-seni-rakyat-penjaga-tradisi.html' title='Reyog, Seni Rakyat Penjaga Tradisi'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-9156830523487562744</id><published>2007-03-07T08:35:00.000-08:00</published><updated>2007-03-07T08:36:26.146-08:00</updated><title type='text'>Dan Putra Terakhir Pendiri NU Pun Berpulang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/1600/740784/kecil%20Pak%20Ud-Jenazah%20di%20tengan%20santri.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4387/899/320/983275/kecil%20Pak%20Ud-Jenazah%20di%20tengan%20santri.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Mendung tebal menyelimuti kota Jombang, Senin (15/01) dini hari, ketika rombongan santri dari Solo, Jawa Tengah memasuki halaman depan Pondok Pesantren (ponpes) Tebuireng Jombang. Seorang pemuda bersarung dan mengenakan jas berwarna gelap yang memimpin rombongan itu mendatangi pos jaga ponpes yang didirikan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH.Hasyim Ashari di tahun 1899 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamualaikum,..kami rombongan dari Solo, ingin berta'ziah (berdoa kematian), apakah jenazah Kyai Yusuf Hasyim sudah datang," tanya pemuda itu pada Miftahul Huda, pengasuh Ponpes Tebu Ireng yang dini hari ini kebagian tugas jaga. "Langsung ke Dalem Kidul (rumah utara) saja, sekitar 500 meter dari sini,..jenazah masih di sana," jawab Mistahul Huda. Pemuda itu mengangguk, dan bergegas ke tempat yang dituju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga besar NU berduka ketika KH. Yusuf Hasyim meninggal dunia Minggu (14/01) sore di RS. Dr. Soetomo, Surabaya. Kematian putra terakhir KH. Hasyim Ashari itu bagai menambah duka Indonesia, negeri yang belakangan tercabik dengan berbagai peristiwa kemanusiaan. "Sudah tidak ada lagi putra KH. Hasyim Ashari, semua sudah meninggal,.." kata Muhammad Nuh, salah satu ustadz Ponpes Tebuireng pada The Post, Senin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH. Yusuf Hasyim adalah putra ke tujuh pendiri NU, KH. Hasyim Ashari. Sekaligus adik bungsu KH. Wahid Hasyim, ayah KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Peran tokoh yang akrab dipanggil Pak Ud ini mulai terlihat ketika dirinya menjadi salah satu perwira pasukan Hisbullah, salah satu cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada jaman kemerdekaan. Jabatan sebagai ketua pertama dari Ansor, organisasi kepemudaan di NU, semakin melambungkan namanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apalagi, di tahun ia menjabat sebagai Ketua Ansor itu, organisasi ini paling getol mengobarkan semangat perlawanan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memberontak pada akhir tahun 1965. Karena itulah, Pak Ud adalah tokoh yang menolak upaya apapun yang memberi ruang kepada komunisme. "Pak Ud tahu betul apa yang diinginkan orang-orang Komunis, karena itu dia menolak tegas ideologi komunisme," kata Muhammad Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap itu jauh berbeda dengan sikap KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur, keponakannya. Gus Dur adalah salah satu mantan Presiden RI yang secara terbuka mengusulkan dicabutnya TAP MPR-RI 25 tahun 66 yang melarang ajaran Marksisme dan Leninisme di Indonesia. "PKI tidak bisa diberi ruang karena bertentangan dengan Pancasila," statement KH. YUsuf Hasyim tentang usulan Gus Dur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan kepesantrenan, KH. Yusuf Hasyim membuat terobosan dengan merubah sistem kepengurusan Ponpes Tebuirang menjadi lebih modern. Yakni membentuk kepemimpinan pesantren secara kolektif dengan adanya Dewan Kyai, komisi pendidikan atau Lajnah Tarbiyah wat Ta'lim serta membudayakan organisasi santri ponpes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan itu menyempurnakan sistem pendidikan Ponpes Tebuireng yang sejak tahun 1916 sudah mulai menerapkan sistem pendidikan sekolahtik atau madrasah. Kakak KH. Yusuf Hasyim KH. Wahid Hasyim, menyempurnakan hal itu dengan mendirikan madrasah Nidzamiyah pada tahun 1934. Dalam sistem itu diajarkan berbagai pelajaran modern mulai berhitung, ilmu pengetahuan lam hingga bahasa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1947, ketika KH. Hasyim Asy'ari meninggal dunia, tampuk pimpinan Ponpes dipegang oleh KH. Wahid Hasyim. Tak lama setelah itu, ayah Gus Dur ini terpilih menjadi Menteri agama RI. Kesibukan sebagai menteri agama membuat Tebu Ireng diserahkan kepada adiknya, KH. A. Karim Hasyim dan KH. Ahmad Badlowi, kakak ipar. Kemudian berpindah tangan kepada KH. A. Kholiq Hasyim dan KH.Yusuf Hasyim. Sistem baru pun diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Pak Ud, Ponpes Tebuireng berkembang pesat. Tidak hanya Madrasah Ibtidaiyah, didirikan pula Tsanwiyah dan Aliyah. Agar lebih modern, dibangun lembaga pendidikan SMP dan SMA Wahid Hasyim dan Universitas Hasyim Asy'ari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia politik, posisi strategis pernah diraih KH. Yusuf Hasyim sebagai anggota DPR-RI Gotong Royong mewakili kelompok NU.Tokoh yang mendirikan PPP Reformasi dan Partai Kedaulatan Umat (PKU) ini pernah terpilih sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Pengurus ICMI Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ketika KH. Yusuf Hasyim sudah tiada, NU benar-benar terpukul. "NU benar-benar kehilangan tokoh besar, tokoh yang bersedia mengabdi pada masyarakat, tanpa diminta," kata ketua PBNU Hasyim Muzadi dalam sambutanya di sela-sela upacara pemakaman. Karenanya, Hasyim menilai harus ada upaya dari NU untuk meneruskan semangat "asli" KH. Yusuf Hasyim dan pendiri NU lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang ini, banyak orang NU yang tidak melakukan semangat NU yang benar, seperti terseret dalam gerakan Islam Ekstrem dan Islam liberal, ini sudah beranjak dari ajaran NU," katanya. NU yang benar itu adalam sosok yang moderat. Sosok yang bisa menyelaraskan keyakinan dan toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan KH. Yusuf Hasyim pada ajaran komunisme, menurut Hasyim adalah benar. Karena komunisme mengarahkan orang kepada atheisme atau tidak percaya Tuhan. "Saya meminta ajaran menolak Komunisme harus diteruskan kepada para santri di ponpes manapun," kata Hasyim Muzadi. Agaknya, hal ini adalah pekerjaan rumah bagi KH.Solahuddin Wahid, yang saat ini menjadi pengasuh Ponpes Tebuireng. Selamat jalan Pak Ud,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-9156830523487562744?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/9156830523487562744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=9156830523487562744' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/9156830523487562744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/9156830523487562744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2007/03/dan-putra-terakhir-pendiri-nu-pun.html' title='Dan Putra Terakhir Pendiri NU Pun Berpulang'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-115391333060373558</id><published>2006-07-26T04:08:00.000-07:00</published><updated>2006-07-26T04:28:50.776-07:00</updated><title type='text'>Cerita Kecil Di Tengah Lumpur</title><content type='html'>Kalau Boleh Memilih, Kami Memilih Kembali Ke Rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raut muka Muhammad Ubaid Chikditiro,8, lusuh. Matanya seakan enggan dibuka. Pelajar Madarasah Ibtidaiyah (MI) Al Fadullah itu tiduran di atas karpet hijau yang terbentang di salah satu kios pengungsian di Pasar Baru Porong Sidoarjo, Jumat (23/05) pagi ini. Bantal lusuh berwarna hijau digunakan untuk menopang kepalanya yang terasa pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar bocah yang akrab ditanggil Tio itu tergantung puluhan baju-baju kotor yang berdampingan dengan kelambu lusuh dari kain sisa baju seragam. "Tio lagi sakit pusing-pusing, sejak dua hari lalu tidak masuk sekolah,' kata ibunda Tio Sujantini,44, pada The Jakarta Post. Sejak itu, Tio selalu tiduran di, sementara teman-temannya bersekolah dan bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib pengungsi memang selalu jauh dari kehidupan normal. Begitu juga yang terjadi di masyarakat tiga desa di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang mengungsi karena kediaman mereka terendam lumpur panas PT. Lapindo Brantas Inc. Saat ini tercatat ada 4443 jiwa dari Desa Siring, Desa Reno Kenongo, Desa Kedung Bendo dan Desa Jatirejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan orang itu berdiam di 282 kios-kios bangunan Pasar Baru, Porong Sidoarjo seluas lima hektar. Satu kios berukuran 4x6 meter didiami oleh lima kepala keluarga, beserta barang-barang yang dibawanya. Untuk  memisahkan satu keluarga dan keluarga yang lain dibatasi dengan kelambu kain yang dipasang sendiri oleh pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Ny. Sujantini mendiami kios no.L-10 yang terletak di sebelah utara kompleks Pasar Baru. Di sana Sujantini tinggal bersama keluarga bibinya, Suningsih dan keluarga Nuraini yang juga anak Sujantini. "Untuk menghemat ruangan, tidak semua baran-batang kami bawa, hanya surat-surat penting dan barang berharga," kata Sujanti pada The Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar baru memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Dengan 15 los ruangan pasar berukuran besar, mushola, tiga tempat pendidikan dapur dan dapur umum. Meskipun secara fisik, lokasi pengungsian tertata rapi, namun banyaknya pengungsi dalam satu kawasan menciptakan problem tersendiri. Problem paling awal dialami saat mandi pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah 109 kamar mandi, dengan 22 di antaranya adalah permanen. Dengan jumlah itu, pengungsi dipaksa untuk berebut kesempatan mandi. Untuk dapat jatah mandi, setiap pagi Sujantini harus bangun jam 03.00 WIB, dan langsung menuju kamar mandi, sekalian mengambil air wudlu untuk sholat Subuh. Terlambat satu jam saja, bisa dipastikan kamar mandi sudah dipenuhi oleh pengungsi. "Jam 03.00 saja sudah mengantri, apalagi kalau terlambat," kata Sujantini setengah tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar mandi yang digunakan pun sangat sederhana. Yaitu sebuah tanah parkir yang disekat-sekat dengan menggunakan anyaman bambu (gedhek). Di tiap-tiap sekatan itu terdapat satu bak mandi dan closed. Pada awal-awal digunakan, air yang mengalir di kamar mandi itu jauh dari layak. Baunya seperti air selokan. "Kadang-kadang sampai saat ini masih seperti itu," kata ibu dua anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pagi, petugas dari Kabupaten Sidoarjo membagikan makan pagi berupa nasi bungkus berisi nasi, lauk dan sayur. Petugas juga membagi air mineral gelasan sebanyak satu kotak untuk sembilan keluarga. Kalau dirasa kurang, pengungsi bisa mengambil air bersih di 10 tanki yang disediakan. Jatah makan siang diberikan menjelang siang dalam jumlah yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam tiba, sebagian besar pengungsi memilih untuk menghabiskan waktu dengan menonton 26 televisi yang dipasang di tiap pojokan tempat pengungsian. Siaran langsung World Cup menjadi menu utama tayangan TV televisi. "Memang semua tersedia, tapi kalau boleh memilih, kami memilih untuk kembali ke rumah," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan orang yang hidup di pengungsian yang serba terbatas mulai memunculkan penyakit. Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat, sebagian besar pengungsi menderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Jumlahnya mencapai 981 orang. Disusul penyalit pegal-pegal (mialgra) sebanyak 177 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mual muntah dan pusing diderita oleh 170 orang," kata Hinu Tri Sulistyowati, korrdinator Rumah Sakit Lapangan di pengungsian. Selain tiga penyakit itu, diare juga mulai menunjukkan kenaikan, hingga 126 orang. Besarnya jumlah penderita penyakit menurut Hinu muncul karena budaya masyarakat menyangkut kepersihan masih belum merata. Seperti budaya mencuci tangan sebelum makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Hinu juga menilai fasilitas kamar mandi kurang memadai, dalam kondisi fisiknya maupun jumlahnya. "Kalau ingin penduduk sehat, tetap harus dibangun kamar mandi lebih banyak, karena jumlah pengungsi terus meningkat," kata Hinu pada The Post.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;JUMLAH PENGUNGSI&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pasar Baru Porong: 1069 KK, 4443 Jiwa&lt;br /&gt;2. Balai Desa Reno Kenongo: 148 KK, 535 Jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;SARANA PENGUNGSIAN&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pasar Baru&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kios 282 buah&lt;br /&gt;2. Los Pasar 15 buah&lt;br /&gt;3. Mushola 1 buah&lt;br /&gt;4. Tempat Pendidikan Sementara, 3 buah&lt;br /&gt;5. Dapur Umum + Mobil 2 buah&lt;br /&gt;6. Televisi 26 buah&lt;br /&gt;7. MCK Permanen 22 buah, darurat 109 buah, mobil 1 buah&lt;br /&gt;8. Posko 2 buah&lt;br /&gt;9. Sarana Transportasi truk 3 buah, pick up 4 buah, ambulance 6 buah, tangki 3 buah&lt;br /&gt;10. Bak air minum 10 buah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;SARANA KESEHATAN&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puskesmas, rawat jalan 265 jiwa, rawat inap 23 jiwa, masuk rumah sakit RSU Sidoarjo  6 jiwa&lt;br /&gt;2. RS. Bhayangkara, rawat jalan, 729, rawat inap 82 masuk RSU Sidoarjo 14 jiwa&lt;br /&gt;3. RSU Sidoarjo, rawat inap 9, opname 3 jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;SISWA MENGUNGSI&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TK/SD 142 anak&lt;br /&gt;SDN/Madarasah Ibtidaiyah 610 anak&lt;br /&gt;SMP/ Madrasah Tsanawiyah 188&lt;br /&gt;Madrasah Aliyah 52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;total 492&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keindahan" Lumpur Dilihat Dari Kacamata Peneliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4387/899/1600/lumpur%20di%20sore%20hari.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4387/899/320/lumpur%20di%20sore%20hari.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keindahan danau lumpur panas dan beracun yang tersembur dari sekitar lokasi pengeboran minyak dan gas bumi PT. Lapindo Brantas Inc.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali warnanya yang abu-abu, secara fisik tidak ada yang berbeda dari batu bata yang dipegang oleh Sariman, salah satu peneliti dari Teknologi Pengolahan Mineral dan Batu Bara (Tekmira). Ukuran, berat dan tebal batu bata itu persis sama dengan batu bata kebanyakan yang ada di masyarakat. "Ini adalah batu bata yang kami buat dari lumpur Porong Lapindo," kata Sariman,  Jumat (14/07) ini di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping berbagai upaya untuk menghentikan semburan lumpur panas disertai gas beracun dari areal pengeboran PT. Lapindo Brantas Inc terus dilakukan, ada upaya lain yang juga dilakukan para peneliti dari berbagai lembaga di Indonesia. Yaitu mencari kegunaan dari lumpur beracun yang sampai saat ini menggenangi ribuan hektar lahan dan memaksa ribuan orang mengungsi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya cukup mengejutkan. Dari lumpur panas itu bisa diciptakan bahan-bahan bangunan alternatif seperti batu bata, beton hingga bahan pengganti aspal jalan. Hebatnya, bahan-bangunan yang tercipta dari lumpur itu memiliki tingkat kekuatan yang jauh lebih tinggi dari bahan bangunan yang selama ini sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu peneliti Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industru (LAPI) ITB, Budi Lationo mengatakan, dari hasil penelitian yang dilakukan, pihaknya berhasil menciptakan batako dari lumpur Lapindo. "Batako yang kami buat ini lebih murah dan mudah, karena tidak memerlukan kerikil dan pasir, seperti yang selama ini digunakan sebagai bahan dasar batako," kata Budi Lationo pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuatnya pun mudah, hanya dengan mencampurkan lumpur yang sudah kurangi kandungan airnya dengan semen dan polimer (bahan sejenis plastik yang bisa dibeli ditoko-toko). Untuk 1 m3 batako, semen yang dibutuhkan sekitar 400 kg dan 5 liter polimer. "Semua bahan-bahan itu dicampurkan dalam mixer dan kemudian diaduk, kalau sudah merata, bisa langsung dicetak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tidak ada alat untuk mencetak menjadi batako, adonan lumpur, semen dan polimer itu bisa langsung digunakan untuk membuat tembok rumah, jembatan hingga gedung-gedung tinggi. "Setelah kami teliti kekuatannya, bahan bangunan dari lumpur ini lebih kuat, bahkan tanpa diberi 'tulang" &lt;br /&gt;dari lonjoran besi," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Totok Nurwasito dari ITS menawarkan cara lain untuk mengolah lumpur Lapindo dengan hanya menambahkan semen dan batu kapur. Untuk 1 m3 lumpur dan dicampur dengan 2 sak serta 100 KG kapur, bisa menghasilkan 600 batu bata. "Batu bata itu berukuran sama persis dan bisa dikerjakan oleh man power maupun mesin," kata Totok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk batu bata yang ditawarkan Totok, bisa dikerjakan tanpa melalui proses pembakaran, seperti pembuatan batu bata selama ini. Energi sinar matahari yang ada sudah cukup bisa membuat batu bata berbahan lumpur itu keras. "Kekuatan yang dimiliki pun bisa diandalkan, bisa dipasang di dalam tembok, maupun menjadi hiasan di luar tembok tanpa dicat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmuan dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Syekhfani punya teori sendiri ketika diriya "menyelami" lumpur panas dan beracun Lapindo. Menurut ahli pertanian ini, lumpur yang menyembur di desa Siring dan kini menggenangi ratusan hentar lahan persawahan dan pemukiman penduduk itu sangat berbahaya, terutama untuk tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur yang ada di dalam lumpur itu, membuat tanaman, apapun jenisnya, mati. Bahkan lahan yang diendapi lumpur itupun tidak bisa digunakan. "Kecuali dilakukan reklamasi lahan yang memerlukan biaya sangaaatt mahal," kata Syekhfani pada The Post. Unsur-unsur yang ditemukan pun lebih banyak unsur negatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti natrium (Na), aluminium (Aldd), besi (Fe), khlor (Cl) dan electrical cunductivity (Ec). "Seperti kita ketahui, besi dan chlor adalah unsur yang meracuni, tapi sekali lagi, kalau mau lahan bekas lumpur tetap bia digunakan, urusan biaya, urusan lain," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Tim 2 Pengelolaan Air Permukaan dan Lumpur kasus Lumpur Lapindo, Gempur Adnan pun mengakui bahwa lumpur Lapindo tergolong zat B3 (bahan, beracun dan berbahaya). Karenanya, hal itu tidak boleh menghalangi pemanfaatan bahan berbahaya itu, seperti halnya memanfaatan bahan B3 lain, clay ice dan tailing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banyak baahan bangunan yang diciptakan dari bahan B3, seperti clay ice dan tailing, tapi toh aman-aman saja," katanya. Meskipun demikian, Gempur Adnan menekankan perlunya izin dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) bila ingin memproduksi secara massal bahan bangunan alternatif itu. "Izin dari KLH harus ada, karena menyangkut keselamatan masyarakat dan lingkungan," kata Gempur Adnan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Persoalan Masih Terendam Di Lumpur Lapindo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang di hari Senin (29/05), tesemburlah gas berwarna putih disertai percikan lumpur. Tepatnya di Desa Siring, Porong, Kabupaten Sidoarjo. Semakin hari, semburan lumpur panas dan gas hidrosulfida (H2S) dan amoniak (NH3) itu semakin banyak, menggenangi areal di sekitarnya. Ribuan orang mengungsi, ratusan orang sakit dan dua orang meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hampir dua bulan ini, luapan lumpur di areal Banjarpanji-1 milik Lapindo Brantas Inc itu sudah menggenangi 191 ribuan hektar lahan. Berbagai upaya untuk menghentikan semburan lumpur disertai gas itu sudah dilakukan. Mulai mendatangkan snubbing unit (alat untuk mendeteksi sumber semburan di dalam tanah) hingga pembangunan rellief well (alat untuk menutup sumber semburan) sudah didatangkan. Namun, nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur mencermati peristiwa luapan di Sidoarjo ini bukan sebuah sebuah peristiwa biasa. Melainkan salah satu rangkaian persoalan di dunia pertambangan Indonesia. Persoalan pertama adalah soal status sumur Banjarpanji-1. Sumur eksplorasi di Desa Renokenongo ini adalah perluasan dari  rencana pnegelolaan kandungan migas di Blok Brantas di tiga Kabupaten, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total seluruh sumur yang sudah dieksplorasi maupun yang sudah di eksploitasi sebanyak 49 buah. Dengan rincian 43 sumur di Kabupaten Sidoarjo, empat sumur di Kabupaten Mojokerto dan sisanya, dua sumur di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Dalam sebuah dialog di Surabaya, Dinas ESDM Jatim merilis target pengeboran di 110 titik sumur dari 28 sumur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anehnya, yang selama ini terekspos hanya 21-28 sumur, ada apa ini?" kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Ridho Syaiful Ashadi pada The Jakarta Post awal Minggu ini. Menurut Ridho, pada aktivitas pertamanya di tahun 1990, sumur Banjarpanji-1 adalah salah satu aktivitas pertambangan yang tidak memiliki analisis dampak lingkungan (amdal). "Itu jelas-jelas pelanggaran berat," kata Ridho Syaiful Ashadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, eksplorasi Lapindo Brantas Inc dilakukan di tengah-tengah daerah pemukiman padat penduduk. Awalnya, blok Brantas di miliki oleh PT. HUFFCO 1990 yang kemudian dijual ke Lapindo Brantas Inc pada tahun 1996. Setahun kemudian, tahun 1997, Lapindo Brantas Inc menandatangi MOU dengan Perusahaan Gas Negara sebagai salah satu supplyer gas di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1999, produksi gas dilakukan untuk pertama kali. Rencananya akan ada dua puluh titik sumur pengeboran yang akan digarap. Sejak 2005 hingga sekadang, Blok Brantas dinikmati oleh Lapindo Brantas Inc sebesar 50 persen (sekaligus menjadi operator proyek), PT. Novus Brantas sebesar 32 persen, PT. Santos Brantas sebesar 18 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan kedua yang menggantung dalam kasus menyemburnya lumpur panas dan gas ini adalah dilanggarnya tahap-tahap aktivitas pertambangan. Aturan main di Indonesia menyebutkan, perlu adanya surat izin usaha pertambangan (IUP) dan pemegang usaha pertambangan (PUP) yang dimiliki perusahaan pertambangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila keduanya sudah dimiliki, perlu adanya izin eksplorasi yang didapatkan melalui assesment dan kelayakan yang komperehenship perusahaan yang bersangkutan," kata Ridho Syaiful Ashadi. Semuanya belum lengkap tanpa adanya izin lokasi yang dikeluarkan oleh Kepala Daerah Tingkat II. "Sudahkah Lapindo Brantas Inc memiliki semua izin itu?" tanya Syaiful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ketiga adalah carut marutnya alur proyek yang dinilai sebagai titik awal terjadinya bencana semburan lumpur dan gas ini. Terutama terkait data tentang titik akhir pengeboran (drilling) saat terjadinya blow out lumpur dan uap gas H2S. Walhi mencatat, rencananya titik akhir dari pengeboran di itu adalah 10.000 feed. Namun blow out terjadi pada kedalaman 8000-9000 feed. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jawaban dari semuanya bisa dilihat dari pemasangan block cassing, apakah sudah terpasang? Kalau belum atau sengaja tidak dipasang, sepertinya hal itu bukan keputusan operator pengeboran, sangat mungkin dia hanya menjalankan kontrak dan perintah yang tidak mensyaratkan pemasangan block cassing," kata Syaiful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Data Bencana Industri di Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Minyak Tumpah&lt;br /&gt;- Waktu   : Tahun 2000&lt;br /&gt;- Lokasi  : Blok Pangkah, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik &lt;br /&gt;- Pelaksana Proyek : PT. Premier Oil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Semburan H2S&lt;br /&gt;- Waktu   : Tahun 2001&lt;br /&gt;- Lokasi  : Desa Rahayu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Tuban &lt;br /&gt;- Pelaksana Proyek : PT. Devon Kanada kini dikelola PT.Petrochina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*data WALHI JATIM&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-115391333060373558?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/115391333060373558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=115391333060373558' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115391333060373558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115391333060373558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/07/cerita-kecil-di-tengah-lumpur.html' title='Cerita Kecil Di Tengah Lumpur'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-115391197812303852</id><published>2006-07-26T04:05:00.000-07:00</published><updated>2006-07-26T04:06:18.516-07:00</updated><title type='text'>Perkosaan Anak SD Pada Teman Sekelasnya</title><content type='html'>Air mata Tri Ismiatun perlahan-lahan menetes ketika perempuan berusia 35 tahun itu menceritakan kondisi anaknya, Kuntum,11 (bukan nama sebenarnya) yang menjadi korban pelecehan seksual oleh empat teman sekelasnya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gandusari II Trenggalek, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ketika perempuan yang sehari-hari menjadi ibu rumah tangga itu mengingat betapa sayang dirinya kepada anak gadis terakhirnya itu. "Kasihan betul anak saya itu, sekecil itu sudah mengalami mimpi buruk yang dihindari setiap perempuan, menjadi korban perkosaan," kata Tri Ismiatun pada The Jakarta Post, Selasa (04/07) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang dialami Kuntum memang tragis. Gadis yang sempat menjadi wakil Kabupaten Trenggalek dalam setiap even lomba tari tradisonal itu menjadi korban perkosaan oleh teman sekelasnya, DMS (12), SND (11), PTT (11) dan KKH (11). Ironisnya, kejadian itu berlangsung beberapa kali di ruang kelas, perpustakaan dan kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu berlangsung pada pertengahan Mei lalu. Suatu hari, ketika jadwal pelajaran Matematika kosong karena gurunya tidak hadir, DMS bersama tiga temannya memaksa Kuntum untuk masuk ke kamar mandi putra. Kuntum yang mengira kejadian itu hanya gurauan semata berusaha menolak. Namun, apa daya, empat orang bocah laki-laki itu jauh lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar mandi, keempat bocah SD itu menelanjangi Kuntum, meraba bahkan memperkosanya. Beberapa pukulan sempat mendarat di wajah Kuntum ketika gadis itu coba berteriak. "Saya awalnya tidak percaya, tapi seperti itulah yang terjadi, usai kejadian itu, Kuntum melaporkan kejadian itu ke salah satu gurunya, namun diabaikan," kata Tri Ismiatun yang kini menemani suaminya, Ismail, 53 yang sedang obname penyakit infeksi dubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, saat waktu istirahat, keempat bocah laki-laki itu kembali melakukan hal serupa. kali ini terjadi di dalam kelas. Kuntum yang sedang mengerjakan beberapa soal tiba-tiba dipeluk dari belakang dan diperlakukan tidak senonoh. Begitu juga ketika Kuntum ada di perpustakaan. "Kuntum tidak mau menceritakan semua itu kepada saya, karena takut saya marah," kata Tri Ismiatun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua aib itu terbongkar ketika seseorang yang mengaku tahu peristiwa itu melaporkan kejadian itu pada sebuah wartawan koran lokal di Trenggalek. Tri Ismiatun dan Ismail bagaikan tersambar halilintar, dan segera membawa kasus ini ke polisi. "Hasil visum menyebutkan, dinding vagina anak saya lecet-lecet, sebagai tanda kemasukan benda asing...," kata Tri Ismiatun terhenti. Ia tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi segera menyidik kasus ini, dan menetapkan DMS (12), SND (11), PTT (11) dan KKH (11) sebagai tersangka. Kejaksaan Negeri Trenggalek yang menangani kasus ini meminta keempat tersangka untuk ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Trenggalek. Keempatnya dijerat dengan dakwaan berlapis, melakukan perbuatan cabul secara bersama-sama dan berlanjut, sesuai pasal 82 KUHP tentang asusila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu anggota majelis hakim yang rencananya akan menyidangkan kasus ini pada Senin (10/07) mendatang, Didi Ismiatun mengatakan majelis akan mempertimbangkan apakah keempat tersangka itu pantas dihukum atas perbuatannya atau tidak. "Hukuman maksimal 15 tahun dan denda maksimal 30 juta," kata Didi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus perkosaan dengan tersangka dan korban anak-anak ini menurut Koordinator Surabaya Children Crisis Center (SCCC) Plan Surabaya Indonesia, Nonot Soeryono mengatakan bahwa kasus semacam ini haruslah dilihat secara utuh dengan mempertimbangkan sisi kekanakan pelaku dan korban, tanpa mengabaikan rasa keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pihak korban misalnya, harus diusut tuntas apakah peristiwa ini benar-benar terjadi. "Secara teknis, harus dilihat dulu apakah proses perkosaan itu benar terjadi, tindakan medis dan hukum yang harus menilai hal itu," kata Nonot pada The Jakarta Post. Sementara dari sisi pelaku atau tersangka, harus dijaga agar pelaku tidak diperlakukan seperti kriminal dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara hukum, anak-anak dianggap belum memiliki kemampuan otak untuk menilai baik buruk tindakannya. Karena itu, dia tidak bisa disamakan dengan prilaku yang dilakukan orang dewasa. Keputusan untuk memasukkan keempat tersangka di LP Trenggalek dan bercampur dengan tahanan dewasa, menurut Nonot Soeryono adalah pelanggaran berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut UU Perlindungan Anak dan Piagam PBB yang melindungi anak yang sudah diratifikasi oleh Indonesia, hal itu tidak boleh dilakukan," katanya. Informasi yang diperoleh The Jakarta Post, keempat tersangka anak itu ditempatkan di salah satu sel bagian depan di LP Trenggalek, terpisah dari sel dewasa. Langkah ini diambil majelis hakim karena Trenggalek tidak memiliki LP khusus anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terpisah, keempat anak-anak tersangka pemerkosa ini mengalami stress. Ketika dibezuk orang tua mereka, salah satu anak sempat meronta ronta karena ketakutan. Karena itulah, Plan Surabaya Indonesia melalui SCCC yang juga merupakan penasehat hukum keempat bocah itu secara khusus sudah mengirim surat ke Komnas Anak dan Kejari Trenggalek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat itu SCCC meminta pihak terkait segera membebaskan keempat anak itu dari LP Trenggalek, dan dikembalikan kepada orang tua mereka. "Jangan sampai peristiwa Raju di Medan kembali terulang, disaat kita ingin menegakkan hukum, kita justru menyiksa anak-anak dengan melakukan kekerasan kepada mereka," kata Nonot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang pertama kasus perkosaan yang didakwakan pada empat siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gandusari II Trenggalek, Jawa Timur, digelar di Pengadilan Negeri Trenggalek, Senin (10/07) ini. Keempat siswa SD yang menjadi terdakwa ketakutan dengan banyaknya orang yang datang ke pengadilan. Mereka memilih untuk menutup muka dengan jaket dan topi karena malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang tertutup yang berlangsung empat puluh lima menit itu berlangsung tegang. Keempat terdakwa, DMS (12), SND (11), PTT (11) dan KKH (11) yang selama ini ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Trenggalek dibawa ke PN Trenggalek dengan menggunakan mobil tahanan sekitar pukul 08.30 wib. Begitu sampai ke pengadilan, keempatnya langsung digelandang di ruang tahanan yang terletak di bagian belakang kantor pengadilan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang tahanan yang terbuka dan bisa dilihat oleh pengunjung, membuat keempat bocah itu merasa tidak nyaman. Apalagi Senin ini pengunjung sidang kasus perkosaan keempat bocah itu pada teman sekelasnya, Kuntum,11 (bukan nama sebenarnya-RED) itu tergolong banyak. Mulai petugas berseragam lengkap dan preman, wartawan hingga masyarakat hadir sejak pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar pengunjung langsung menuju ke Ruang Tahanan dan melihat keempat terdakwa yang sejak pertama masuk ke Ruang Tahanan duduk membelakangi jendela pengunjung. "Oh,..ini pemerkosa itu, kok masih kecil ya?" kata sebagian pengunjung usai melihat keempat bocah itu. Sesekali, salah satu dari keempat bocah itu menoleh, dan mengintip dari sela-sela jaket yang menutupi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul sepuluh, keempatnya dibawa masuk ke Ruang Sidang I. Meski berlangsung tertutup, pengunjung pasih bisa melihat proses persidangan itu dari balik kaca pintu ruang sidang. Keempatnya duduk di kursi terdakwa, didampingi tiga penasehat hukum dari Surabaya Children Crisis Center (SCCC), Edward Dewaruci, Hari Supriadi dan Budi Cahyono. Hanya keluarga terdakwa yang boleh menyaksikan sidang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sidang dipimpin oleh Lilik Nuraeni itu mencoba untuk menghapus kesan seram dalam persidangan, syarat persidangan kasus anak-anak. Sama sekali tidak ada yang mengenakan baju toga. Termasuk Jaksa Penuntut Umum Wiryaningtyas yang dalam kesempatan itu membacakan dakwaannya. Keempatnya didakwa melanggar Pasal 82 dan pasal 290 tentang tindakan asusila pada anak di bawah umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diberitakan The Post, kejadian itu berlangsung pada pertengahan Maret (bukan Mei yang diberitakan sebelumnya). Saat itu keempat terdakwa memperkosa Kuntum beberapa di lingkungan sekolah dan di rumah Kuntum. Hasil visum menyebutkan alat kelamin korban terluka akibat kejadian itu. Hingga saat ini, Kuntum diungsikan di rumah salah satu saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai persidangan, salah satu anggota majelis hakim Didi Ismiatun mengatakan, keempat terdakwa menyatakan mengerti dengan dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum. "Keempatnya menyatakan mengerti dengan dakwaan, dalam persidangan ini disertakan barang bukti tiga celana dalam," kata Didi Ismiatun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persidangan itu, diserahkan pula surat permohonan penangguhan penahanan oleh orang tua keempat terdakwa. Atas surat itu, Majelis Hakim mengaku akan mempertimbangkan. "Persidangan akan dilanjutkan Kamis (13/07) besok dengan agenda pembacaan ekssepsi atau jawaban atas dakwaan," kata Didi mengakhiri jumpa pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edward Dewaruci, ketua penasehat hukum keempat terdakwa mengatakan sejak awal kasus ini digulirkan ada prosedur yang salah dan tidak berprespektif melindungi anak-anak. Mulai pelanggaran menahan terdakwa yang dicampurkan satu lokasi dengan tahanan dewasa, penempatan terdakwa di ruang tahanan yang bisa dilihat oleh siapa saja, hingga dakwaan yang tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menempatkan terdakwa anak pada penjara dewasa adalah pelanggaran, apalagi sekarang terdakwa ditaruh di ruang tahanan yang bisa dilihat siapa saja, mereka masih punya masa depan," kata Edward Dewaruci pada The Jakarta Post. Juga persoalan dakwaan yang tidak rinci dan runtut seperti yang disyaratkan dalam persidangan. "Semuanya akan kami sampaikan dalam eksepsi," kata Edward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persidangan selanjutnya, Edward meminta dilakukan secara khusus. Mulai tidak semua orang bisa melihat terdakwa dan pelaksanaan persidangan. Juga bila nanti persidangan masuk ke tahap pemeriksaan saksi, termasuk Kuntum, saksi korban. "Saya meminta pelaku dan korban tidak dipertemukan, melainkan menggunakan kamera video dan diambil dari ruang terpisah," kata Edward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diana Lestari, konsultan anak SCCC yang sempat berdialog dengan keempat terdakwa di ruang tahanan mengatakan, keempat bocah itu mengaku sangat ketakutan. Ketakutan itu membuat keempat bocah itu enggan diajak bisa oleh siapa saja. Keempatnya hanya menginginkan kasus ini segera berakhir. "Kami ingin cepat pulang," kata Diana menirukan rengekan keempat bocah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolak Penangguhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Trenggalek yang mengadili kasus perkosaan siswa SDN Gandusari II Trenggalek, Jawa Timur dengan terdakwa empat anak dari sekolah yang sama, mengabaikan permohonan penangguhan penahanan yang diajukan orang tua keempat terdakwa. Akibatnya, hingga saat ini keempat terdakwa berusia 11 tahun itu masih ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Trenggalek, satu area dengan narapidana dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terungkap dalam persidangan Kamis (13/07) ini di PN Trenggalek. Dalam persidangan yang berlangsung tertutup itu, Majelis Hakim yang dipimpin oleh Lilik Nuraeni menyatakan belum mengambil keputusan soal permohonan penangguhan penahanan orang tua keempat terdakwa itu. "Sampai hari ini (Kamis-RED) Majelis Hakim belum memutuskan untuk mengabulkan atau menyetujui permohonan penangguhan," kata salah satu Anggota Majelis Hakim, Didi Ismiatun usai persidangan tanpa menyebutkan alasan yang pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kasus perkosaan yang didakwakan kepada empat bocah SDN Gandusari II Trenggalek ini bergulir, keempat terdakwa sudah ditahan di LP Trenggalek. Penahanan atas perintah Kejaksaan Negeri itu berdasar pada pasal 44 UU no.3 tahun 97 tentang Pengadilan Anak. Awalnya, kejaksaan hanya akan menahan mereka mulai 20 Mei hingga 30 Juni lalu. Namun ketika masa penahanan Kejaksaan sudah berakhir, proses menahanan diperpanjang atas permintaan Hakim yang mengadili kasus itu, mulai 30 Juni hingga berakhir Jumat 14 Juli ini. Hampir pasti, Setelah Jumat ini, penahanan akan diperpanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis Hakim berdalih, penahanan perlu dilakukan agar terdakwa tidak mengganggu proses persidangan yang akan berlangsung selama 45 hari. LP Trenggalek dipilih karena selama ini Kabupaten Trenggalek tidak memiliki LP khusus anak. Di LP Trenggalek, sel keempat terdakwa dipisah dari narapidana dewasa yang lain. Hal itu dipandang lebih efisien, dari pada menempatkan keempat terdakwa di Kabupaten Blitar, daerah terdekat yang memiliki LP khusus anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasehat Hukum keempat terdakwa dari Surabaya Children Crisis Center (SCCC) Nonot Soeryono yang bersama Hari Supriadi mendampingi terdakwa di persidangan Kamis ini menilai, keputusan untuk tetap menahan keempat terdakwa dan pengabaian permohonan penangguhan penahanan itu, jelas melanggar berbagai aturan tentang anak. Seperti UU no.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU No.12 tahun 1996 tentang Penempatan Narapidana Wanita dan Anak Didik Pemasyarakatan serta Konvensi PBB soal Hak Anak yang sudah diratifikasi Pemerintah Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terdakwa ini masuk dalam kategori children need a special protection, karena itu penanganannya harus berprespektif melindungi anak-anak," kata Nonot. Dengan menempatkan anak-anak satu area dengan narapidana dewasa, masa depan terdakwa anak-anak pun tidak akan jauh dunia kriminalitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, dalam aturan perundangan sudah diatur mekanisme hukum penangguhan penahanan yang diajukan oleh orang tua. "Tapi hal itu malah belum diputuskan oleh Majelis Hakim," kata Nonot. Karena itu, Nonot dan Tim SCCC akan menempuh jalur lain untuk segera mengeluarkan anak-anak dari LP Trenggalek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabaian permohonan penanggugan penahanan atas keempat terdakwa yang masih anak-anak itu juga mengecewakan PRY, 47 orang tua salah satu terdakwa, PTT, 11. "Jelas saya sangat kecewa, mengingat bagaimana tindakan yang dirasakan anak saya sejak pertama kali kasus ini bergulir," kata PRY usai menyaksikan persidangan anaknya. PRY menceritakan, sejak awal anak keduanya ini merasakan perlakukan kasar dari kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pemeriksaan yang dilakukan dalam waktu berjam-jam tanpa didampingi pengacara. Informasi yang diterima The Post, dalam penyidikan itu polisi melakukan bentakan dan ancaman kepada keempat anak itu untuk mengakui semua perbuatan yang dituduhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal yang sama juga terjadi di Kejaksaan, anak saya sampai menangis karena takut dipenjara, meskipun akhirnya tetap mau setelah dibujuk penahanan hanya akan berlangsung selama 10 hari," kenang PRY. Kini, setelah permohonan penangguhan penahanan diabaikan, PRY dan orang tua keempat terdakwa lain berupaya memohon bantuan Kepala Bagian Hukum Pemerintah Propinsi Jawa Timur melalui surat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, PRY juga akan memenuhi semua keinginan sang anak, agar merasa tidak tertekan di LP Trenggalek. "Selama ini saya sudah membawa gitar dan bola sepak, agar anak saya tetap bisa bermain meski ada di dalam penjara," katanya.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-115391197812303852?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/115391197812303852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=115391197812303852' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115391197812303852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115391197812303852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/07/perkosaan-anak-sd-pada-teman.html' title='Perkosaan Anak SD Pada Teman Sekelasnya'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-115044899767699057</id><published>2006-06-16T02:07:00.000-07:00</published><updated>2006-06-16T02:10:01.833-07:00</updated><title type='text'>Enam Bulan Berlalu, Warga Jember Masih Sengsara</title><content type='html'>Noda tanah liat itu masih tertoreh di langit-langit rumah Ervina di Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (10/06) ini. Tembok sebelah kanan rumah berukuran 10x8 itu pun masih hancur, meskipun puing-puing yang berserakan sudah tidak ada lagi. "Bekas-bekas bencana alam masih terlihat, sekalian untuk mengingatkan kejadian yang terjadi enam bulan lalu," kata Ervina pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana di Jember terjadi ketika gelombang air bercampur tanah dari atas gunung Argopuro menghanyutkan kayu-kayu besar dan menyapu rumah-rumah yang ada di sepanjang kali di tiga kecamatan, Rambi Puji, Panti dan Sukorambi. Satkorlak Pemkab Jember mencatat, sejumlah 72 orang meninggal dunia dalam tragedi itu, dengan korban terbanyak dari Kecamatan Panti. Sementara ribuan orang lainnya mengungsi karena pemukimannya luluh lantak dihancurkan banjir bandang dan tanah longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sudah enam bulan berlalu, bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi 29 Desember 2005 lalu di Jember, Jawa Timur masih terasa. Duka yang menggelayut pun masih menyimuti wilayah yang berjarak 210 KM dari Surabaya. Apalagi, bekas-bekas bencana, seperti bangunan rusak, batu-batu besar hingga bangkai mobil yang terseret banjir bandang masih ada di lokasi kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ervina salah satu korban bencana yang masih terus trauma dengan kejadian itu. Ketika bencana itu terjadi, Ervina dan kedua orang tuanya sedang berada di rumah di samping pasar Kemiri, salah satu lokasi terparah yang tersapu banjir dan tanah longsor. Beruntung, saat air sudah meninggi, Ervina dan keluarganya mengungsi di salah satu mushola yang berjarak 500 meter dari rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak lama setelah kami mengungsi, air dan lumpur menerjang rumah, semua hancur," kenangnya. Di sekitar rumah Ervina ini juga banyak ditemukan mayat yang tertimbun tanah. Sampai saat ini, kalau hujan deras mengguyur wilayah itu, Ervina memilih untuk tinggal di rumah saudara yang tak jauh dari rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas wilayah bencana di Jember, membuat penanganan bencana di wilayah itu pun lebih rumit. Apalagi ketika tidak adanya pemetaan wilayah secara pasti. Mulai luas masing-masing kecamatan yang tidak jelas batasan, jumlah penduduk di tiap-tiap desa, karakter masing-masing wilayah, jumlah bangunan hingga titik awal terjadinya bencana. Persoalan ini juga yang membuat proses recovery terkesan lamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga enam bulan ini saja, rumah-rumah bantuan Pemerintah Propinsi Jawa Timur yang seharusnya sudah bisa digunakan, masih belum selesai dikerjakan. Rumah bantuan pemerintah propinsi itu berupa rumah seluas 6x6 dengan dinding batako dan asbes, yang juga digunakan untuk bagian atap. Kawasan rekolasi rumah bantuan itu didesain mengelilingi masjid yang juga merupakan tempat ibadah mayoritas warga di kawasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relokasi juga dilakukan pada pondok pesantren Al Hasan, Desa Kemiri. Pondok pesantren yang ditempati 300-an santri itu hancur tersapu banjir. Bangunan ponpes yang baru ditempatkan di lapangan Desa Kemiri dengan mengempati areal seluas 2,7 Ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengamatan The Jakarta Post di dua lokasi relokasi, Desa Kemiri dan Desa Kaliputih hanya puluhan dari 200-an rumah bantuan sudah berdiri. Hal yang sama juga terjadi di Desa Gunung Pasang dan Desa Delima. Sebagian besar rumah bantuan itu masih berupa kerangka tanpa atap dan tembok. Rencananya, ada 100-an rumah yang akan dibangun di Desa Kaliputih, Gunung Pasang dan Delima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelambatan pembangunan rumah-rumah bantuan itu memaksa korban banjir bandang Jember tetap bertahan hidup serba pas-pasan di tenda-tenda atau sekolah-sekolah yang dijadikan tempat pengungsian. Di lokasi pengungsian tanah lapang desa Kemiri misalnya, para pengungsi hidup di 12 tenda besar bantuan Pemerintah Jepang. Tiap tenda rata-rata dihuni enam keluarga. Sistem pembuangan yang tidak tertata rapi dan keengganan pengungsi menjaga kebersihan, membuat lokasi pengungsian tampak kumuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang yang sama tampak di lokasi pengungsian Desa Kaliputih. Slamet, salah satu pengungsi sangat mengharapkan rumah bantuan itu segera selesai. "Agar saya dan keluarga saya serta pengungsi yang lain bisa hidup normal," katanya. Selama rumah itu belum jadi, Slamet dan puluhan pengungsi di Desa Kaliputih harus berbagi ruangan salah satu sekolah dasar. "Sampai kapan harus seperti ini," katanya dengan senyum terkulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suprapto salah satu pengungsi mengatakan, salah satu hal yang membuat pembangunan rumah bantuan itu lamban adalah tidak adanya pasokan bahan baku yang digunakan untuk membangun rumah. "Bahan bakunya sering terlambat," kata laki-laki yang kini bekerja sebagai pekerja kasar di perkebunan Kaliputih ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-115044899767699057?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/115044899767699057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=115044899767699057' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115044899767699057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115044899767699057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/06/enam-bulan-berlalu-warga-jember-masih.html' title='Enam Bulan Berlalu, Warga Jember Masih Sengsara'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-115007659143832557</id><published>2006-06-11T18:41:00.000-07:00</published><updated>2006-06-11T18:43:12.210-07:00</updated><title type='text'>Bertanding Dalam Kesedihan</title><content type='html'>Sorot mata Sigit Budiarto tampak sayu ketika The Jakarta Post menemuinya di arena Djarum Indonesia Open 2006 Gedung Olah Raga Sudirman, Surabaya, Rabu (31/05) ini. Apalagi ketika pasangan Mens Doubles Limpele Flandy ini ditanya nasib keluarganya di Yogyakarta. "Rumah keluarga saya di Kawasan Kalasan Yogyakarta hancur," katanya pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigit adalah satu dari pemain Djarum Indonesia Open 2006 yang keluarganya menjadi korban gempa bumi di Yogyakarta, Sabtu (27/05) lalu. Selain Sigit ada dua pemain nasional lain yang keluarganya menjadi korban bencana alam yang menewaskan 4000-an orang itu. Mereka adalah Trikus Harjanto dan Aprilia Yuswandari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir seluruh keluarga besar Sigit tinggal di Yogyakarta, tepatnya di daerah Kalasan, dekat dengan daerah wisata Candi Prambanan. Sigit menceritakan, ketika peristiwa itu terjadi, seluruh keluarganya sedang berada di rumah. "Saat gempa datang Sabtu pagi itu, semua keluarga saya sedang berada di rumah, beruntung tidak ada yang menjadi korban peristiwa itu," kata laki-laki kelahiran Yogyakarta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak ada korban jiwa, namun bangunan rumah keluarga Sigit hancur dan roboh. Termasuk rumah kakek Sigit yang ada di daerah Candi Sari Yogyakarta. "Tembok rumah kakek saya juga roboh dan hancur," tegasnya. Sebelum bertanding di Indonesia Open 2006, Sigit menyempatkan diri pulang ke Yogyakarta untuk melihat kondisi rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebetulan, sehari sebelum peristiwa itu, saya sedang ada di Kudus, Jawa Tengah untuk hadir dalam peresmian gedung olah raga baru, saat itu saya mendengar ada gempa, dan memutuskan untuk pulang ke Yogyakarta," kenangnya. Kesedihan terasa, begitu dirinya melihat kondisi rumahnya di Yogyakarta. "Saya hampir tidak bisa berkata-kata," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi yang sama juga dialami oleh keluarga Aprilia Yuswandari yang ada di kawasan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Tempat tinggal seluruh keluarga pemain tunggal putri Indonesia ini luluh lantak dengan tanah. "Kabar yang saya dapatnya, rumah keluarga saya di Imogiri rusak, meskipun tidak ada yang menjadi korban," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi yang dialami keluarga Sigit Budiarto dan Aprilia Yuswandari itu mau tidak mau mempengaruhi permainan mereka dalam Djarum Indonesia Open 2006. Namun, hal itu tidak membuat Sigit dan Aprillia kehilangan fokus pada pertandingan yang dimainkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada awalnya saya sempat terpengaruh, meski begitu saya berusaha tetap profesional dan memilah perasaan saya dan mempersiapkan untuk pertandingan kali ini," kata Sigit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada, Aprillia pun mengaku tidak terpengaruh dengan tragedi yang terjadi di tanah kelahirannya itu. "Sedih sih, tapi saya tidak terpengaruh, saya fokus pada permainan ini," katanya. Sayangnya, dalam pertandingannya dengan Huaiwen Xu, Aprillia kalah dengan skor 21-10 dan 21-15.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-115007659143832557?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/115007659143832557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=115007659143832557' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115007659143832557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115007659143832557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/06/bertanding-dalam-kesedihan.html' title='Bertanding Dalam Kesedihan'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-115007648145041860</id><published>2006-06-11T18:40:00.000-07:00</published><updated>2006-06-11T18:41:21.583-07:00</updated><title type='text'>Gedung Bersejarah Itu Menangis Sendirian</title><content type='html'>Bendera Merah Putih Biru milik Pemerintah Belanda itu berkibar di tiup angin, ketika patroli keamanan dan seorang pegawai pribumi melintas di pelataran Gedung Internationale Credit en Hamdelsvereeraging Roterdam di Jl. Willemsolein (kini Jl. Jayengrono) Surabaya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depannya, berjajar mobil-mobil kuno milik pejabat Belanda yang tampak mengkilap dengan ornamen-ornamen khas Kerajaan Belanda. Pelataran gedung megah yang dibangun sekitar tahun 1929-an itu tampak bersih. Tak tampak sampah plastik atau larakan (sampah dedaunan dalam bahasa Surabaya-RED) berserakan di sana-sini. Semuanya tertata rapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran itulah yang terekkam dalam salah satu foto Soerabaja Tempo Doeloe yang dipamerkan di Pusat Kebudayaan Prancis CCCL Surabaya awal bulan ini. Namun, kondisi sangat berbeda sekarang. Bangunan yang terletak di depan Jembatan Merah Plaza (JMP) itu kumuh dan berantakan. Di seputaran gedung itu digunakan sebagai terminal bemo dan pedagang kaki lima. Lalu lintas di sekitarnya pun awut-awutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melihat nasib gedung-gedung tua itu kini, baru terasa betapa Surabaya tidak memiliki identitasnya sebagai Kota Pahlawan," kata Kadaruslan, sesepuh kota Surabaya yang juga seorang budayawan, menomentari foto koleksi Pusat Kebudayaan Prancis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar bila Kadarruslan merasa gerah. Laki-laki berusia 75 tahun yang asli Surabaya ini adalah saksi sejarah pertempuran 10 November 1945. Dirinya mengetahui secara pasti bagaimana nasib gedung-gedung tua bersejarah itu. "Di gedung yang dulu bernama Internatio itu adalah pusat pertempuran antara pejuang Surabaya dengan tentara sekutu, sekarang kumuh dan tidak terawat," katanya pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib cagar budaya di Surabaya, termasuk gedung-gedung bersejarah bisa mencapai ribuan buah. Namun, yang kini bisa dikenali dan dicatat dalam SK wali kota, hanya 102 buah. Itu pun dalam keadaan yang mengenaskan, meski sebagian kecil terawat dengan baik. Bahkan, ada yang dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru untuk rumah toko (ruko) atau &lt;br /&gt;gedung-gedung perkantoran modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukut Imam Widodo, pemerhati gedung tua di Jawa Timur mencatat ada tujuh gedung bersejarah di Kota Surabaya yang dirobohkan dan diganti gedung baru. Seperti Gedung Post en Telegram Kantor, Gedung Centrale Burgerlijke Ziekeninriching (CBZ), gedung CV Algemmene Volkscredit Bank hingga restauran Tai Chan. "Semuanya roboh, yang tersisa hanya nama dan kenangan," kata Dukut pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tahun 2006, kata Dukut, Tim Cagar Budaya Pemerintah Surabaya akan mengkaji 52 kawasan dan bangunan cagar budaya di Surabaya. Rencananya, bangunan yang memenuhi kriteria, akan dimasukkan dalam daftar cagar budaya dalam Peraturan Daerah no. 5 tahun 2005 tentang pelestarian Lingkungan Cagar Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELINDUNGI CAGAR BUDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya melindungi cagar budaya di Surabaya bukanlah hal baru. Meskipun hasil akhirnya, upaya itu selalu berujung ketidakjelasan. Pada jaman kolonial misalnya, perlindungan cagar budaya secara nasional pernah diatur dalam Monumenten Ordonantie no.19 tahun 1931 yang kemudian diubah menjadi Monumenten Ordonantie no.21 tahun 1934. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, peraturan itulah yang diakomodasi dalam Undang-undang no.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Berturut-turut muncul Peraturan Pemerintah no.10 tahun 1993 dan dikuatkan oleh Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tentang Penelitian dan Penetapan Cagar Budaya dan/atau Situs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat yang sama dilakukan Pemerintah Kota Surabaya dengan mengeluarkan SK Walikota tentang 61 Bangunan di Surabaya yang harus dilestarikan. SK itu terbit dahun 1996. Setelah itu, dikuatkan oleh Perda no.5 tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan Atau Lingkungan Cagar Budaya. "Awalnya saya positif thingking, tapi kenyataannya, masih saja ada gedung &lt;br /&gt;tua yang digusur untuk didirikan ruko," kata Dukut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu peristiwa penting yang sempat mencuat adalah kasus dibongkarnya gedung Stasiun Semut (dulu bernama Stasiun Spoor Semoet dan RS.Mardi Santoso. Dua bangunan yang sejak jaman kolonial sudah ada itu rencananya akan digunakan sebagai pertokoan. "Yang tersisa kini hanya bangunan depannya saja," kata Dukut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengedepannya kepentingan ekonomi adalah salah satu sebab digusurnya bangunan-bangunan tua. Kondisi di Jalan Tunjungan dan Darmo Surabaya menunjukkan hal itu. Apalagi ada asumsi, gedung tua itu memunculkan kesan kotor dan rusuh. Kalau dirawat pun, biaya lebih mahal dibandingkan merawat gedung modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau alasan-alasan itu muncul, akhirnya terjadi pembenaran atas pemugaran gedung-gedung bersejarah itu," ungkap Kadaruslan, budayawan Surabaya. Kadarruslan mencontohkan dibongkarnya RS.Simpang dan taman bunga dipinggir Sungai Kalimas, diganti dengan Delta Plaza (kini Plaza Surabaya) plus Monumen Kapal Selam (Monkasel). "Orang tidak menyadari, taman bunga di samping RS. Simpang itu adalah salah satu terapi bagi pasien &lt;br /&gt;RS," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPAT WISATA NOSTALGIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan, seorang pakar bangunan kuno asal New Orleans AS, Patricia H Gay, pernah menyarankan untuk menjadikan bangunan kuno di Surabaya sebagai wisata sejarah sebuah kota. Dengan kata lain, menggabungkan nuansa lama dengan modenrisasi. Menurut Patricia, Surabaya memiliki potensi untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga dilakukan di New Orleans. Kota eksotik itu kini menjadi salah satu kota wisata favorit di di dunia, hanya karena menyajikan bangunan kuno bersejarah yang ditata secara apik. "Jika anda kehilangan bangunan kuno di kota anda, itu sama dengan anda kehilangan identitas anda," katanya dalam sebuah forum di Institut Negeri Sepuluh Nopember &lt;br /&gt;(ITS) Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu disetujui oleh Kadarruslan. Dalam sebuah kunjungan Putri Beatrix Belanda di Surabaya misalnya, kata Kadarruslan, justru mengunjungi bangunan-bangunan tua yang ada di Surabaya. Termasuk kampung-kampung lama yang tersebar hampir di seluruh kota Surabaya. "Dia ingin tahu, bagaimana sih kota yang sempat membuat pasukan penjajah itu kalah,..haha," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, Kadarruslan dan beberapa sesepuh kota didukung seniman se Surabaya berencana untuk mengirim Petisi Kota Surabaya kepada Walikota Surabaya. Dalam petisi itu mereka mengingatkan Pemerintah Kota Surabaya untuk tidak menghilangkan identitas kota Surabaya dalam pembangunannya. "Jangan sampai Surabaya hanya menjadi kota zombie," tegasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas kota yang dimaksud dalam petisi itu adalah bangunan bersejarah, kampung-kampung kuno hingga tradisi-tradisi lokal yang sekarang sudah mulai hilang. Salah satu kampung bersejarah yang masih ada adalah kampung Peneleh, Surabaya. Di kampung ini berdiri rumah HOS Cokroaminoto, pahlawan nasional yang juga guru dari Presiden Pertama RI, Soekarno.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-115007648145041860?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/115007648145041860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=115007648145041860' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115007648145041860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115007648145041860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/06/gedung-bersejarah-itu-menangis.html' title='Gedung Bersejarah Itu Menangis Sendirian'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-115007631218353861</id><published>2006-06-11T18:37:00.000-07:00</published><updated>2006-06-11T18:38:32.393-07:00</updated><title type='text'>Gaji Wartawan, Problematika Dan Solusinya</title><content type='html'>&lt;em&gt;Independensi dunia pers di Jawa Timur, khususnya Surabaya, kembali diuji. Secara terbuka DPRD Surabaya mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sebanyak Rp.300 ribu perbulan untuk 30 media, sebagai dana “menggaji” wartawan. Sebuah langkah yang sangat melecehkan etika profesi wartawan!&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar memprihatinkan itu terdengar Selasa (23/05) lalu. Dalam pertemuan dengan 15 wartawan dari berbagai media di Surabaya, Ketua DPRD Surabaya Musyafak Rouf mengatakan DPRD Surabaya menganggarkan dana untuk wartawan sebagai kompensasi peliputan. Jumlahnya tidak main-main, Rp.300 ribu/bulan untuk 30 wartawan atau Rp.108 juta/tahun. Dana itu akan diberikan usai forum konsultasi antara DPRD Surabaya dan wartawan yang biasa meliput di sana. Sebagai realisasinya, “gaji” pertama wartawan itu diberikan Selasa lalu. Tidak semua wartawan yang hadir menerimanya (Kompas, Rabu(24/05)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak prespektif yang bisa digunakan untuk menilai langkah gegabah DPRD Surabaya itu. Penilai pertama adalah pelanggaran konstitusional. Dalam hal ini adalah pelanggaran pada UU No.40 tahun 199 tentang Pers. Simak saja pertimbangan Presiden RI tentang UU Pers pada poin C yang mengatakan: Pers nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat “bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun” adalah kalimat terpenting. Dengan bahasa lain, kata “campur tangan” yang tertulis itu berarti upaya-upaya pihak di luar pers yang berakibat tidak berjalannya asas, fungsi, hak, kewajiban dan peranan pers. Seperti kita ketahui peran pers salah satunya adalah melakukan pengawasan, kritik dan saran terhadap hal-hal yang menyangkut kepentingan publik (Media: Pilar IV Demokrasi, terbitan SEAPA, DEWAN PERS dan FRIEDRICH EBERT STIFTUNG 2002). Bagaimana bisa pengawasan dan kritik bisa berjalan bila suap diterima setiap bulan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prespektif kedua adalah langkah DPRD Surabaya (yang diamini oleh beberapa wartawan Surabaya) itu menginjak-injak Kode Etik Jurnalistik Universal dan Kode Etik Jurnalistik 2006 Dewan Pers yang disepakati oleh 29 organisasi pers dari seluruh Indonesia. Hal itu termaktup pada Pasal 6 yang berbunyi Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran kata “penyalahgunaan profesi dan suap” dari pasal ini adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi, dan menerima segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi. Nah, yang terjadi di DPRD Surabaya jelas merupakan upaya pengambilan keuntungan pribadi atas profesi jurnalistik. Dalam prespektif yang lebih luas, jelas DPRD Surabaya mencabik-cabik rasa keadilan masyarakat atas kepercayaannya menjadi wakil rakyat yang harus berpikir untuk rakyatnya. Ini pelanggaran paling berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya DPRD Surabaya untuk “menggaji” wartawan-yang juga diamini oleh beberapa wartawan- mengingatkan kembali pada wacana peran pers, terutama pers lokal dalam mengawal demokratisasi. Cita-cita membangun pers agar lebih profesional pasca kejatuhan Rezim Soeharto berjalan terseok-seok. “Penyakit” lama pers yang gejalanya berupa mentalitas menerima suap berbentuk amplop/ucapan terima kasih/uang bensin tetap ada. Dukungan pada kelompok politik tertentu hingga tindakan oportunistis dengan memanfaatkan momentum tertentu (seperti iklan pergantian pejabat sampai pemerasan) masih terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kalau bicara soal kesejahteraan. Kecilnya gaji dan tidak dipenuhinya hak wartawan mendapatkan jaminan sosial, seakan membuat kesejahteraan wartawan sebagai cita-cita yang sulit terealisasi. Sementara setiap hari, wartawan terjepit dengan kewajiban untuk menyetor sejumlah berita. Di sisi lain, tidak meratanya pemahaman masyarakat atas fungsi pers dan aturan main untuk menyelesaikan sengketa dengan media, memunculkan tindakan-tindakan kekerasan pada wartawan (kasus pemukulan wartawan di UPN Veteran Jawa Timur). Masih saja kita lihat ada masyarakat yang meluruk kantor media, mengancam wartawannya hingga dalam titik tertentu terjadi pembunuhan, seperti kasus pembunuhan Herlyanto, wartawan freelance dan Delta Post Probolinggo. Kondisi itu memposisikan wartawan sebagai sosok yang “sendirian” dalam memperjuangkan nasibnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wartawan, ada beberapa langkah internal dan eksternal yang bisa dilakukan untuk menyiasati kondisi itu. Secara internal, wartawan harus mampu memberdayakan diri sendiri. Dalam lingkup kecil, upaya untuk meningkatkan kemampuan jurnalistik dan pengetahuan adalah hal mutlak. Secara tidak langsung, hal ini adalah upaya untuk menaikkan “harga” wartawan. Dalam logika sederhana, seorang wartawan yang pintar akan banyak diincar oleh perusahaan-perusahaan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan posisi tawar dengan perusahaan juga bisa dilakukan dengan membangun serikat pekerja pers. Langkah ini sering dipandang miring oleh perusahaan pers, dan dinilai sebagai kelompok berpotensi konflik tinggi. Padahal tidak demikian. Serikat pekerja adalah organisasi yang menjembatani kepentingan perusahaan kepada wartawan atau sebaliknya. Melalui serikat pekerja ini, perusahaan mampu membuat peraturan-peraturan secara adil dengan mempertimbangkan kepentingan semua karyawan, termasuk wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, membangun kekuatan komunal antar wartawan, entah itu dalam forum-forum diskusi atau tergabung dalam organisasi profesi juga penting. Ujung dari langkah ini adalah upaya membangun jaringan komunikasi dengan kelompok lain. Bukan tidak mungkin, cara ini akan membuka kesempatan meningkatkan profesionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan eksternal pada prinsipnya adalah membangun persepsi yang sama tentang fungsi, tugas dan kewajiban pers. Seperti kita tahu, pers bertugas menginformasikan, mendidik dan menghibur masyarakat melalui karya jurnalistiknya. Benang merah dari hal ini adalah karya jurnalistik. Hanya berita! Maksudnya, interaksi wartawan dengan nara sumber semata-mata urusan berita, tidak lebih. Wartawan harus menegaskan hal ini terus menerus agar masyarakat di luar pers pun memahaminya. Hingga tidak ada lagi lembaga pemerintah atau narasumber yang menyediakan atau menganggarkan uang amplop untuk wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi wartawan yang mandiri (baca: independen) adalah mutlak, sekaligus problem terberat, karena pihak lain selalu berupaya untuk membongkar idependensi dengan iming-iming suap dalam berbagai bentuk. Solusinya, menjaga hubungan dengan narasumber sebatas hubungan profesi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-115007631218353861?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/115007631218353861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=115007631218353861' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115007631218353861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/115007631218353861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/06/gaji-wartawan-problematika-dan.html' title='Gaji Wartawan, Problematika Dan Solusinya'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114913002262852501</id><published>2006-05-31T19:46:00.000-07:00</published><updated>2006-05-31T19:47:02.733-07:00</updated><title type='text'>Kebenaran Dari Arsip Lusuh</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4387/899/1600/Presiden%20Soekarno%20di%20Ksatrian%20Pasiran%20kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4387/899/320/Presiden%20Soekarno%20di%20Ksatrian%20Pasiran%20kecil.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Presiden RI Pertama, Soekarno ketika menyunjungi Ksatrian Pasiran (kini Armatim) di Surabaya. (repro: Djawatan Penerangan)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di tahun 1907, kota Bojonegoro, Jawa Timur geger. Tokoh masyarakat asal kota tembakau, Samin Soerontiko, ditangkap Pemerintah Hindia Belanda yang ketika itu berkuasa di tanah Jawa. Dia dianggap mempengaruhi masyarakat sekitar dengan ajaran kepercayaan (yang kemudian disebut Saminisme-red). Ajaran itu membuat Pemerintah Hindia Belanda kesulitan untuk menancapkan pengaruhnya di Bojonegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Saminisme secara sederhana bisa diartikan sebagai ajaran kejujuran untuk mencapai kemuliaan. Karena kejujuran itulah, penganut Saminisme tidak bisa dimasuki skenario politik pecah belah Pemerintah Hindia Belanda atau dikenal sebagai devide et ampera. Samin dan penganutnya dianggap mengganggu jalannya pemerintahan dan tata kehidupan masyarakat. Karenanya, Samin Soerontiko ditangkap dan dibuang ke Sumatera Barat dan Jawa Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah penggalan "cerita" yang termuat dalam buku catatan Pemerintah Hindia Belanda, Besluit no.5 yang diterbitkan 5 Juli 1907. "Coba kalau arsip surat menyurat ini tidak ada, masyarakat tidak akan punya bukti perihal kegigihan seorang tokoh bernama Samin Soerontiko," kata Drs. Syawal, Kepala Bidang Penelitian Naskah dan Arsip, Badan Arsip Provinsi Jawa Timur pada The Jakarta Post, Rabu (17/05).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsip yang memuat kisah Samin Soerontiko hanyalah satu dari jutaan meter linier arsip sejarah yang disimpan di Badan Arsip Nasional, termasuk Badan Arsip Provinsi Jawa Timur. Arsip-arsip itu disimpan tekstual (kertas), media baru (file komputer) maupun micro film. Untuk mengaksesnya, bisa dilakukan secara online melalui situs www.arsipjatim.go.id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran arsip sejarah kembali dibicarakan seiring Hari Kearsipan Nasional, Kamis, 18 Mei 2006. Apalagi, peran arsip sejarah tidak bisa diabaikan dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Arsip sekaligus menjadi bukti otentik atas semua hal yang pernah terjadi. Melalui lembaran-lembaran lusuh itu juga beberapa peristiwa yang sempat menjadi misteri bisa terungkap dengan lugas. Salah satunya adalah lembaran Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang menjadi awal penyerahan kekuasaan Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, lembaran surat yang konon hilang itu menyisakan tanda tanya besar sejarah Indonesia. Apakah benar ketika itu Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaannya kepada Jenderal Soeharto? Bagaimana proses pembuatan surat itu? Apakah dengan todongan senjata? "Hal-hal seperti ini bisa tuntas bila arsip Supersemar ditemukan," ungkap Syawal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemisterian Supersemar dan cerita yang melingkupinya juga muncul dalam peristiwa penyobekan bendera Belanda, di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit Oriental) Surabaya pada 10 November 1945. Bendera Belanda berwarna merah putih biru dirobek oleh salah satu Arek Suroboyo, pejuang 10 November 1945 pada warna birunya, menyisakan warna bendera Indonesia Merah Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, siapa pelaku peristiwa yang menjadi simbol kemenangan pejuang Surabaya atas Pasukan Sekutu Belanda itu tidak ditemukan. Uniknya, sumber The Jakarta Post dari Universitas Airlangga menyebutkan, peristiwa yang diabadikan dalam bentuk foto hitam putih dan dipercaya sebagai foto bukti sejarah itu ternyata dibuat setahun setelah peristiwa yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, arti penting dan berharganya arsip sejarah tidak dipahami oleh masyarakat. Seringkali, masyarakat yang memiliki arsip sejarah tidak mengerti cara merawat dan menyimpan barang bernilai tinggi itu. Bahkan ada yang membuangnya begitu saja, tanpa mau memperhitungkan nilai sejarah yang dikandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpahaman masyarakat itu juga tampak dari tidak diminatinya jurusan sejarah dalam universitas-universitas di Indonesia. Di Jawa Timur saja, jumlah mahasiswa jurusan sejarah di enam universitas negeri di Surabaya, Malang dan Jember, menempati posisi rendah. "Padahal, bila kita sudah tenggelam di dalamnya, asyik sekali," kata Riskon Pulungan, mahasiswa semester 4 Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Riskon, melalui sejarah dirinya bisa memprediksi apa yang kemungkinan akan terjadi, karena sejarah akan berulang. Seperti peristiwa turunnya Presiden Soekarno yang terulang kembali saat peristiwa turunnya Presiden Soeharto. "Dalam arsip yang menceritakan peristiwa turunnya Presiden Soekarno yang diawali dengan krisis ekonomi yang memunculkan protes mahasiswa dan masyarakat, hal itu pula yang terjadi pada jaman Soeharto," katanya. Dua kebenaran dari tumpukan arsip lusuh.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114913002262852501?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114913002262852501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114913002262852501' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114913002262852501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114913002262852501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/05/kebenaran-dari-arsip-lusuh.html' title='Kebenaran Dari Arsip Lusuh'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114912963719077777</id><published>2006-05-31T19:39:00.000-07:00</published><updated>2006-05-31T19:40:38.326-07:00</updated><title type='text'>Istri Herlyanto Masih Belum Percaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4387/899/1600/Testimoni%20Samudiana%20Herlyanto%20kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4387/899/320/Testimoni%20Samudiana%20Herlyanto%20kecil.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;TAK PERCAYA&lt;/strong&gt;. Istri Herlyanto, wartawan Probolinggo yang tewas dibunuh tiga minggu lalu, Samaudiana (kiri) masih tidak bisa menerima kematian suaminya. Hal itu terungkap dalam Diskusi dan Testimoni bertajuk "Siapa Pembunuh Herlyanto?" yang digelar AJI Indonesia di Surabaya, Rabu (24/05) ini.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan sudah usia kematian wartawan freelance dan Delta Post, Probolinggo, Herlyanto. Namun masih belum ada titik terang. Belasan saksi yang sudah diperiksa polisi juga belum bisa membuka tabir kematian wartawan yang dikenal sering menulis berita-berita kasus kriminal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi pembunuhan Herlyanto terjadi Sabtu (29/4) malam lalu di tengah hutan jati jalan tembus Desa Tulopari Kecamatan Tiris menuju ke Desa Tarokan Kecamatan Banyuanyar. Saat ditemukan, kondisi ayah dua anak itu sangat mengenaskan. Tubuhnya bersimbah darah, dengan sembilan luka bacokan benda tajam. Mulai punggung, perut hingga kepalanya. Saksi mata mengatakan, sebelum dibunuh korban sengaja dibuntuti oleh beberapa orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil investigasi Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Indonesia menyebutkan, kematian Herlyanto berlatar belakang berita yang ditulisnya. Hal itu terlihat dari hilangnya bloknote dan handphone korban, di awal peristiwa itu terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil investigasi itu pula yang kemudian menjadi dasar organisasi wartawan internasional International Federation of Journalist (IFJ), Reporter Without Border dan United Nation of Education Sosial and Cultural Organisation (UNESCO) PBB ikut pengutuk peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelambatan polisi untuk mengusut kasus pembunuhan Herlyanto itulah yang mendorong istri Herlyanto, Samudiana mengadu ke dengan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jatim Wijaya Purbaya. Dalam pertemuan Kamis (24/05) di Mapolda Jatim itu, Samudiana yang ditemani Ulin Nusron dari AJI Indonesia dan Hendrayana dari LBH Pers Jakarta meminta Polda untuk lebih cepat membongkar kasus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keluarga kami hanya ingin peristiwa ini diungkap tuntas, kami tidak tahu harus mengadu pada siapa," kata Samudiana terbata-bata. Herlyanto, menurut Samudiana adalah tulang punggung ekonomi keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama untuk membiayai Noer Rizka Septian Tina (17) dan Dwi Rizki Wali Hakiki (10) dua anaknya yang kini bersekolah di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo. Samudiana minta seluruh masyarakat ikut membantu pengungkapan kasus pembunuhan suaminya. "Saya terkenang bagaimana suami saya sangat ingin anaknya menjadi perawat,..." katanya terhenti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendrayana dari LBH Pers Jakarta menilai ada peningkatan kasus kekerasan pada wartawan. Dan hal ini tidak bisa dibiarkan. "Harus ada percepatan dalam upaya mendorong terbukanya tabir pembunuhan-pembunuhan itu," katanya. Kapolri dan wartawan, kata Hendrayana harus konsisten memberitakan peristiwa kekerasan pada wartawan sampai tuntas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ulin Nusron dari AJI Indonesia mencatat pergantian pemerintah tidak berarti ada pergantian nasib wartawan. Karena siapapun pemerintahannya, semua tidak becus mengusut kekerasan pada wartawan. "Ingat kasus Udin wartawan Bernas dan pembunuhan wartawan di Pulau Nias, kasus-kasus itu sama-sama tidak terungkap," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat tidak butuh lagi janji-janji polisi tanpa ada ujung kasus yang jelas. AJI Indonesia telah menggalang opini internasional hingga akhirnya menjadi record kasus kekerasan secara internasional. "Kalau polisi tidak berani mengungkap berarti ikut memperburuk track record Indonesia di mata internasional," tegas Ulin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua PWI Probolinggo, Sahudi mengatakan, latar belakang pembunuhan Herlyanto tidak bisa dilepaskan dalam dua berita yang ditulisnya. Dua minggu sebelum meninggal, kata Saudi, Herly menulis kasus tentang penjualan air proyek PDAM dan perkembangan kasus jembatan ambruk. "Ada juga kasus tentang pemalsuan tanda tangan, tapi menurut sumber polisi, kematian itu berhubungan dengan tulisan tentang penyelewengan dana biaya operasional sekolah (BOS)," kata Sahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, polisi sempat menuding ada empat orang yang dicurigai sebagai pelaku. Masing-masing pelaku mendapat Rp 1 juta. "Namun polisi masih enggan menyebut nama pelaku yang saat ini sedang dikejar hingga ke luar kota," katanya.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114912963719077777?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114912963719077777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114912963719077777' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114912963719077777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114912963719077777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/05/istri-herlyanto-masih-belum-percaya.html' title='Istri Herlyanto Masih Belum Percaya'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114864847862594711</id><published>2006-05-26T06:00:00.000-07:00</published><updated>2006-05-26T06:01:18.980-07:00</updated><title type='text'>Bila Komunikasi Politik Diabaikan,..</title><content type='html'>Tidak seperti biasanya, kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang sehari-hari hanya dipenuhi oleh pegawai negeri, belakangan dijaga ketat puluhan petugas Polres Banyuwangi. Selasa (09/05) ini misalnya, mulai teras depan pintu gerbang hingga ruang kerja humas pemkab, penuh dengan polisi berpakaian dinas. Sementara puluhan petugas berpakaian preman lainnya berbaur dengan pegawai kantor atau duduk-duduk di tempat parkir mobil. "Kalau begini, berkantor di Pemkab rasanya aman sekali," gurauan seorang staff Pemkab Banyuwangi pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjagaan ketat itu bukan tanpa alasan. Kamis (04/05) lalu, kota paling timur di pulau Jawa ini sempat "mendidih" dengan aksi demonstrasi sekitar 7 ribu orang yang menuntut Bupati Ratna Ani Lestari turun dari jabatannya. Ratna dianggap tidak mampu memimpin kota berpenduduk 1,5 juta jiwa ini. Hal itu tampak dari kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak aspiratif dan kontroversial. Ujung-ujungnya, DPRD Kota Banyuwangi pun mengajukan mosi tidak percaya dan menyarankan Menteri Dalam Negeri RI untuk mencopot bupati dari jabatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protes masyarakat pada bupati, seperti yang terjadi di Banyuwangi, adalah peristiwa kedua di Provinsi Jawa Timur. Sebelumnya masyarakat Kabupaten Tuban memprotes hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang memenangkan calon incumbent Haeny Relawati. Protes yang terjadi Sabtu (29/04) lalu itu berakhir dengan tindakan anarkis dengan membakar pendopo kabupaten, hotel dan bangunan lain milik Bupati Haeny Relawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat komunikasi politik Universitas Airlangga Surabaya, Henry Subiyakto menilai, meski ada perbedaan pemicu antara peristiwa Tuban dan Banyuwangi, namun keduanya memiliki impas yang sama. Yaitu kemarahan masyarakat pada pemimpin daerahnya. Dan dua-duanya disebabkan karena ketidakmampuan pemimpin daerah untuk menyerap aspirasi masyarakatnya. "Ada alur komunikasi politik yang terputus di Tuban dan Banyuwangi, akibatnya muncul resistensi," kata Henry pada The Jakarta Post, Minggu (07/05) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus Banyuwangi, terputusnya komunikasi politik antara pimpinan daerah dengan masyarakatnya tampak dari kebijakan-kebijakan yang diambil Bupati Ratna Ani Lestari. Setidaknya ada 10 kebijakan yang dikeluarkan Bupati Ratna yang dinilai menjadi pemicu kemarahan masyarakat. Kebijakan pertama adalah dihapusnya pungutan dana penyelenggaraan pendidikan pada sekolah negeri, seperti yang termuat dalam Instruksi Bupati no.1/2005. Juga instruksi bupati untuk menghentikan retribusi pelayanan kesehatan dasar yang termuat dalam Instruksi Bupati no.2/2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun instruksi itu meringankan masyarakat, namun di sisi lain ada nuansa ketidakadilan. Dalam penghapusan pungutan pendidikan misalnya, ada kesan bupati mengabaikan kondisi sekolah swasta yang di dalamnya berisi masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah. Sementara itu, usai penetapan penghapusan retribusi kesehatan, banyak puskesmas yang mengalami kesulitan anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan lain yang dianggap menjadi penyebab terbesar adalah dimasukkannya daftar harga daging babi dalam Standard Barang dan Harga Satuan Barang Kebutuhan Pemerintah Kabupaten Banywangi tahun 2006, seperti yang tertuang dalam Surat Keputusan Bupati No.188/33/KEP/429.012/2006. SK itu membuat "marah" ulama Islam dan masyarakat Banyuwangi yang 94,76 persen dalam pemeluk Islam taat yang mengharamkan daging babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henry Subiyakto menilai, secara hukum, tidak ada yang salah dalam instruksi maupun surat keputusan bupati itu. Karena membuat instruksi dan SK adalah hak kepala daerah. "Tapi, karena hal itu tidak pernah dikomunikasikan sebelumnya, baik kepada DPRD Banyuwangi maupun pada masyarakat, akhirnya muncul intepretasi yang bermacam-macam," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ketidakmampuan Bupati Ratna dalam mengkomunikasikan kebijakannya memang bukan isapan jempol belaka. Sejak dilantik 20 Oktober 2005 lalu, Istri Bupati Jembrana, Bali Winase ini terkesan enggan berkomunikasi dengan DPRD Banyuwangi. "Padahal penyelenggara pemerintahan itu adalah Pemerintah Kabupaten dan DPRD seperti yang diatur dalam UU no.32 tentang Pemerintahan Daerah," kata Ketua DPRD Banyuwangi Ahmad Wahyudi pada The Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu semakin tampak ketika DPRD Banyuwangi mencoba berkomunikasi dengan mengajak Bupati Ratna berbicara dalam satu rapat paripurna, seperti yang tampak dalam kasus Pemberhentian Retribusi Kesehatan. Rekomendasi pencabutan Instruksi Bupati soal Pemberhentian Retribusi Kesehatan yang dikeluarkan DPRD pun diabaikan. Instruksi Bupati tentang hal itu terus diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah DPRD Banyuwangi mengirim SK DPRD no.09 tahun 2006 yang isinya usulan pemberhentian Bupati Ratna. SK itu dikirimkan secara langsung ke Menteri Dalam Negeri RI M. Ma'ruf melalui Gubernur Jawa Timur Imam Utomo. "Mendagri harus melihat fakta obyektif di Banyuwangi dan bukan perseteruan, tapi Ratna memang tidak memadai menjadi Bupati Banyuwangi," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Mendagri mengabaikan, bisa jadi pemerintahan yang dikomandani Bupati Ratna akan kehilangan kredebilitas dan popularitas. Wahyudi mengingatkan kasus Bupati Lampung yang ditolak masyarakat, tapi diabaikan oleh Mendagri. Justru sampai saat ini pemerintahan di Lampung berjalan tidak efektif dan tidak memiliki kredibilitas pada masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menggelikan adalah sikap Bupati Ratna yang selalu menghindari wartawan yang akan mewawancarainya. Budi Wiryanto dari Bali Post di Banyuwangi menceritakan bagaimana Ratna menjawab wartawan dengan nyanyian Halo Balo Bandung. "Waktu kita tanya serius, dia malah menjawab dengan lagu Halo-Halo Bandung, dan masih banyak lagi yang mengesankan dia menolak diwanwancarai," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ika Ningtyas Radio lokal Vis FM Banyuwangi menjelaskan, dalam sebuah konfirmasi tentang harga daging babi misalnya, Bupati Ratna hanya menjawab sangat normatif. Begitu juga ketika The Jakarta Post mengajukan wawancara khusus dengan Bupati Ratna akhir tahun lalu. Pihak Sekretaris Kabupaten mengharuskan The Post mengirim surat permohonan wawancara, sialnya, hingga saat ini tidak direspon mengenai hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas berbagai persoalan komunikasi itu, pengamat politik yang juga Rektor Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Banyuwangi Sugihartoyo menilai perlunya pihak ketiga yang mampu diterima oleh pihak DPRD Banyuwangi, Ulama Islam dan Bupati Ratna untuk ikut turun. "Saya menyarankan Ketua PBNU Hasyim Muzadi dan tokoh nasionalis untuk turun gunung dan mendamaikan persoalan ini," jelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana komentar Bupati Ratna? Dalam sebuah wawancara dengan wartawan Senin (08/05) lalu Bupati Ratna mengatakan bahwa dirinya akan mengikuti mekanisme yang ada. "Sudah Saya katakan di media televisi, semua harus mengikuti mekanisme yang ada, saya juga akan tetap berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Timur dan Mendagri, kalau akan mengirimkan tim investigasi ya,..silahkan," katanya. Beginilah bila Komunikasi Politik Diabaikan,..***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114864847862594711?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114864847862594711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114864847862594711' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114864847862594711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114864847862594711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/05/bila-komunikasi-politik-diabaikan.html' title='Bila Komunikasi Politik Diabaikan,..'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114715638327056184</id><published>2006-05-08T23:29:00.000-07:00</published><updated>2006-05-08T23:33:03.680-07:00</updated><title type='text'>Ketika Wartawan Tewas di Hutan Jati</title><content type='html'>Deretan hutan jati di daerah Desa Tarokan, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo tampak lengang ketika The Jakarta Post sampai di tempat itu, Jumat (05/05) ini. Hanya satu-dua kendaraan roda dua melintas di jalan tanah yang membelah hutan jati di kaki gunung Argopuro itu. Di tempat itulah, seorang wartawan tabloid lokal dibantai. "Lokasinya ada di tengah hutan, 30 meter dari jalan makadam," kata seorang mengendara sepeda motor menunjukkan lokasi jenazah ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi kekerasan pada wartawan kembali terjadi di Indonesia. Kali ini menimpa Herlyanto, wartawan tabloid Delta Post di Probolinggo. Peristiwa itu seakan menambah panjang daftar kekerasan pada wartawan yang terjadi di Jawa Timur, setelah sebelumnya dua wartawan televisi, Sandi Irwanto dari ANTV dan Adreas dari TPI dipukuli petugas satpam Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembunuhan Herlyanto itu terjadi Sabtu (29/4) malam lalu sekitar pukul 19.05 WIB. Ketika itu, wartawan berusia 38 tahun itu sedang melintas seorang diri itu jalan tembus Desa Tulopari Kecamatan Tiris menuju ke Desa Tarokan Kecamatan Banyuanyar, membelah hutan jati. "Dia mengatakan ada acara," kata Kepala Desa Tarokan, Sugiyadi pada The Jakarta Post, Jumat siang ini. Sugiyadi adalah orang terakhir yang bertemu dengan Herlyanto, Sabtu sore sebelum kejadian. Beberapa jam kemudian terdengar kabar Herlyanto tewas di tengah hutan jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditemukan, kondisi ayah dua anak itu sangat mengenaskan. Tubuhnya dipenuhi luka bacokan oleh benda tajam. Mulai punggung, perut hingga kepalanya. "Korban dipastikan sengaja dibunuh," kata Kapolres Probolinggo, AKBP.Drs.H.Wizarlan. Polisi yang melakukan olah TKP menemukan fakta kemungkinan adanya jumlah pelaku yang lebih dari satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan sementara menyebutkan, korban sengaja dibuntuti oleh beberapa orang sebelum dieksekusi. Herliyanto yang mengetahui kejadian itu berniat melarikan diri ke tengah hutan dengan meninggalkan sepeda motornya di jalan makadam. Tapi pelaku bisa mengejar dan membacoknya di punggung. Saat korban terjatuh, pelaku lainnya menghujaninya dengan sabetan senjata tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Herlyanto dibunuh? Hingga seminggu setelah peristiwa itu terjadi, belum diketahui secara pasti motif pembunuhan tersebut. Polisi sudah meminta keterangan sembilan orang saksi yang dianggap mengetahui peristiwa itu. Ricard De Mas Nre, salah satu rekan korban yang juga wartawan di Probolinggo meyakini, Herlyanto sengaja dibunuh karena berita yang ditulisnya. "Dia adalah wartawan yang kerap kali menulis berita kasus kriminal, saya yakin, karena berita yang ditulisnya itulah Herlyanto dibunuh," katanya pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang diperoleh The Post menyebutkan, beberapa minggu belakangan ini, Herlyanto berkonsentrasi pada kasus penyelewengan keuangan di desa setempat. Mulai kasus penjualan air bersih, hingga kasus kerja pembuatan jembatan yang tidak sesuai standart yang ditentukan. "Bahkan sebelum meninggal, dia meng-sms saya untuk menilis berita tentang penyelewengan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah-RED)," terang Ricard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Herlyanto, Samiudiana sangat terpukul dengan peristiwa itu. Apalagi, Herlyanto adalah satu-satunya tonggak perekonomian keluarga. "Dibayar Rp.100 juta pun saya tidak akan terima, saya minta pelakunya dihukum mati, seperti yang diperbuat kepada suami saya," katanya. Pihak keluarga akan terus mendesak polisi untuk menuntaskan persitiwa itu. "Kalau perlu, saya akan menghadap ke Kapolda Jatim, dan meminta agar peristiwa ini diusut tuntas," katanya pada The Post dengan berlinang air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menganggap kasus kekerasan ini adalah persoalan serius. Untuk itu AJI Indonesia mengutus tim investigasi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kabupaten 120 dari Surabaya itu. "Dari hasil sementara investigasi dan bukti-bukti yang kami kumpulkan di lapangan menyebutkan Herlyanto tewas karena berita yang ditulisnya," jelas Bibin Bintariadi, anggota tim investigasi AJI Indonesia. Benarkah? Entahlah. Yang pasti, ada wartawan yang tewas dibunuh di hutan jati.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114715638327056184?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114715638327056184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114715638327056184' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114715638327056184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114715638327056184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/05/ketika-wartawan-tewas-di-hutan-jati.html' title='Ketika Wartawan Tewas di Hutan Jati'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114465664509876074</id><published>2006-04-10T01:09:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T01:10:45.180-07:00</updated><title type='text'>Osing, Suku Yang Terasing di Tengah Modernisasi</title><content type='html'>Lamat-lamat, alunan musik tradisional membelah malam di Kampung Suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kota Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (07/03) malam. Suara alat musik tradisional gambang, kenong, gong, angklung bertalu-talu berpadu dengan syair lagu khas berbahasa Suku Osing. "Baronge wis mangkat, singayo padha nonton (Pertunjukan Barongnya sudah dimulai, ayo kita lihat)," kata Bik Karti,50, wanita penjaga warung pada The Jakarta Post dalam bahasa Osing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, sebuah keluarga yang tinggal di kaki Pegunungan Ijen menggelar pertunjukan Barong sebagai salah satu rangkaian upacara perkawinan. Ratusan penduduk warga Kemiren dan desa-desa sekitarnya, seperti Desa Kinjo dan Desa Boyolali mendatangi rumah di tengah persawahan itu. Anak-anak dan orang dewasa berbaur di pinggir jalan dan pematang sawah, menikmati olah tari dan lagu yang dimainkan oleh kelompok Trisno Budoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Osing adalah salah satu suku minoritas yang hingga saat ini masih eksis di Jawa Timur. Suku itu menyebar di beberapa tempat di Kota Banyuwangi, 300 KM dari Surabaya. Di Banyuwangi terdapat tiga kelompok etnis, Osing, Jawa dan Madura. Terutama di desa Kemiren, Banyuwangi Barat. Di desa yang berjarak tujuh kilometer dari pusat kota berpenduduk 1,4 juta jiwa itu berdiam 2,4 ribu jiwa warga Suku Osing. Keturunan Suku Osing juga berdiam di Desa Aliyan, 14 KM dari pusat Kota Banyuwangi. Di desa itu berpenduduk 4,8 juwa itu, hampir separuhnya merupakan keturunan Suku Osing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH KELAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku yang terkenal dengan dialek dan bahasa Osing itu konon adalah keturunan langsung dari Kerajaan Blambangan, salah satu kerajaan kecil di Jawa Timur yang hadir di sekitar abad ke 18. Kerajaan yang didirikan oleh Raja Wiraraja itu adalah bagian dari Kerajaan Majapahit. Setelah Majapahit runtuh, wilayah Kerajaan Blambangan menjadi rebutan kerajaan kecil di Bali, Pasuruan dan Mataram Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi usai konflik perebutan kekuasaan itu, daerah Blambangan yang terkenal subur itu (Blambangan dari kata Balumbung atau daerah Lumbung Padi-red) menjadi sasaran penjajah Belanda melalui VOC-nya. Jepitan sejarah ini yang akhirnya membuat masyarakat Blambangan menjadi resisten terhadap kekuasaan di luar Blambangan. Muncullah istilah Osing atau Using yang artinya "tidak berpihak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegigihan VOC untuk menguasai Blambangan mendapatkan perlawanan dari tokoh Blambangan, Mas Rempeg yang dipercaya sebagai titisan raja Blambangan Pangeran Agung Willis. Meski akhirnya pemberontakan Mas Rempeg itu bisa dikalahkan oleh VOC, namun perang itu mampu menewaskan tokoh VOC Letnan Van Shaar, Mayor Gobie's dan Letnan Kornet Tienne. Di pihak Blambangan, perang besar di tahun 1771-1772 itu membuat penduduk Blambangan mengungsi ke kaki-kaki gunung dan menyeberang ke Pulau Bali, dan bertahan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, sejarah suram yang dirasakan oleh keturunan Blambangan seakan terus berulang menimpa masyarakat Suku Osing dan wilayah Banyuwangi pada umumnya. Ketika tahun 1965 misalnya, pasca pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), penduduk di daerah yang berbatasan dengan Pulau Bali ini banyak menjadi korban. Sebagai catatan, lagu Genjer-Genjer yang sering dinyanyikan anggota PKI, adalah ciptaan warga Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika di tahun 1998, ketika tiba-tiba tersiar isu ilmu hitam/santet. Warga Osing dan warga Banyuwangi yang dikenal piawai ilmu kanuragan/kesaktian menjadi sasaran pembunuhan. Diperkirakan ada 150 orang yang dituduh sebagai dukun santet dibunuh oleh segerombolan orang berpakaian ala ninja. "Banyaknya peristiwa itu yang membuat orang Osing makin terpinggirkan," kata Hasnan Singodimayan,75, salah satu tokoh Osing pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEBANGKITAN YANG TERSEOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua sejarah kelam itu coba dikubur pada tahun 2002. Bertepatan dengan Ulang Tahun Banyuwangi ke 232, Bupati Banyuwangi ketika itu, Syamsul Hadi membuat langkah membangkitkan tradisi Suku Osing di kota itu. Seperti menjadikan bahasa Osing sebagai bahasa resmi daerah dan diajarkan di sekolah. Juga mengganti lambang kota yang awalnya Ular Berkepala Gatotkaca diganti Penari Gandrung Khas Osing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, upaya untuk membangkitkan keosingan di Banyuwangi disambut gembira oleh masyarakat setempat. Bahasa Osing yang awalnya hanya digunakan oleh komunitas Osing, mulai banyak digunakan oleh masyarakat Banyuwangi lain. Hasan Ali, salah satu tokoh Suku Osing sudah membuat kamus khusus bahasa yang karakter bahasanya dekat dengan bahasa Jawa kuno dan bahasa Bali dengan pengucapan kata "sing". Meskipun ada perbedaan mencolok dengan tidakadanya perbedaan kata dalam kasta tertentu, seperti yang ada di bahasa Jawa dan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semakin banyak orang Banyuwangi yang menggunakan bahasa Osing, karakter Osing pun semakin kentara," kata Hasnan Singodimayan. Pagelaran-pagelaran seni rakyat Osing pun digelar sebagai pertunjukan resmi setiap acara nasional yang diadakan di Banyuwangi. Seperti diketahui, suku ini memiliki produk budaya yang sangat beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai kesenian yang berhubungan dengan siklus kehidupan (Pitonan/hamil hari ke tujuh, Colongan, Ngleboni, Angkat-angkat/Perkawinan), kemasyarakatan (Rebo Wekasan/pemberian sesaji kepada roh halus, Ndok-Ndogan/Mauludan, Kebo-keboan/Penyambuh Panen) hingga tari-tarian. Budayawan Jawa Timur Ayu Sutarto mencatat ada 32 acara budaya yang dimiliki Suku Osing. Delapan belas diantaranya asalah kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di balik muncul penolakan-penolakan yang bersifat sporadis. Khususnya dari daerah yang etnis Jawa dan Maduranya lebih mendominasi. "Ada beberapa sekolah yang menolak memasukkan Bahasa Osing sebagai kurikulumnya," kata seorang guru yang mengajar di Banyuwangi Selatan dan enggan disebutkan namanya pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada dikatakan Ahmad Fauzi,24, pemuda keturunan Osing yang saat ini bekerja sebagai penyiar radio berbahasa Osing di Banyuwangi. Menurutnya, para pemuda Osing saat ini banyak yang mulai meninggalkan kebiasaan berbahasa Osing. "Mereka memilih untuk berbahasa Indonesia atau bahasa dialek Jakarta dari pada Osing," kata Fauzi pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, Fauzi yang tinggal di desa Osing kawasan Desa Kalipuro itu merasakan banyaknya kesenian rakyat yang hilang. Padahal kesenian rakyat yang hilang itu banyak melibatkan pemuda Osing. "Seperti Angklung Carok ("pertempuran" pertunjukan Angklung) yang biasa dimainkan oleh pemuda, kini tidak ada lagi, juga Jaranan yang biasa digelar saat peringatan 17 Agustus, kini tidak ada lagi," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah yang dikenal sebagai pusat Suku Osing pun, seperti Desa Kemiren, atmosfir keosingan pun tidak lagi kental. Dalam pengamatan The Jakarta Post, saat ini semakin sedikit rumah-rumah adat Osing di wilayah itu. Osing memiliki rumah khas berbentuk Tikel Badung, Baresan dan Cerogan. Rumah-rumah adat itu seluruhnya terbuat dari kayu, tanpa menggunaan paku dan semen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain rumah-rumah itu menunjukkan betapa Suku Osing menjunjung tinggi hubungan sosial. Seperti adanya "ampiran" di depan rumah yang berfungsi sebagai tempat mengundang siapa saja yang lewat di depan rumah itu. Bahkan, di bagian dapur rumah adat Osing ada "plonco"/meja lebar dari anyaman bambu yang digunakan untuk makan bersama keluarga dan tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aekanu Hariyono dari Dinas Pariwisata Banyuwangi mengakui selama ini ada kebijakan yang tidak tepat dalam penanganan Suku Osing. Terutama bagaimana pemerintah memperlakukan Suku Osing. Seperti menetapkan Desa Kemiren sebagai desa wisata. Secara tidak langsung hal itu sama dengan mengkotak budaya Osing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seharusnya, justru membiarkan desa itu sebagai desa seperti sedia kala, tapi mendorong kesenian yang sering dilakukan warga setempat untuk terus dilakukan," kata Aekanu Hariyono pada The Jakarta Post. Karenanya, selama ini Aekanu membypass penanganan Suku Osing dengan mengajak para tahu langsung ke komunitas Suku Osing yang sedang melakukan upacara adat. "Intinya memanusiakan Suku Osing dengan membiarkan mereka tumbuh alami," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah untuk terus melestarikan nilai-nilai luhur budaya Suku Osing, tanpa meninggalkan jejak luka seperti yang sebelumnya terjadi, sampai saat ini terus dilakukan. Seperti puisi bernapas optimisme berbahasa Osing terkenal berjudul Padha Nonton (Saksikanlah): &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"..Kembang Abang (Bunga Merah)&lt;br /&gt;Selebrang Tiba Ring Kasur (Kutabur Jatuh di Kasur)&lt;br /&gt;Mbah Teji Balenana (Mbah Teji/Tokoh Osing Kembalilah)&lt;br /&gt;Sunenteni Ring Paseban (Aku tunggu di Perjamuan)&lt;br /&gt;Ring Paseban (Di perjamuan)&lt;br /&gt;Dhung Ki Demang Mangan Nginung (Saat Pembesar Desa Berpesta)&lt;br /&gt;Selereng Wong Ngunus Keris (Seiring terhunusnya keris pusaka)&lt;br /&gt;Gendham Gendis Kurang Abyur (Kegetiranpun takkan terasa)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114465664509876074?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114465664509876074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114465664509876074' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465664509876074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465664509876074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/04/osing-suku-yang-terasing-di-tengah.html' title='Osing, Suku Yang Terasing di Tengah Modernisasi'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114465657152938709</id><published>2006-04-10T01:08:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T01:09:31.683-07:00</updated><title type='text'>Bondowoso Bertarung Melawan Buta Aksara</title><content type='html'>Suasana Mushola (masjid kecil) di Desa Tangsil, Kecamatan Wonosalam, Bondowoso, Selasa (01/02) malam itu tampak meriah. Tempat yang sehari-harinya digunakan untuk beribadah umat muslim setempat itu kali ini digunakan sejumlah 20 ibu-ibu warga sekitar untuk belajar membaca. Sambil duduk bersimpuh, ibu-ibu yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani dan pedagang kaki lima itu menulis satu demi satu huruf abjad. "Jangan sampai salah, huruf "p" itu bulatnya di atas, kalau buruf "b" bulatnya di bawah," kata Edi Sutrisno, petugas Polsek Wonosari yang malam itu menjadi tutor relawan. "Iyaaa,.." jawab ibu-ibu itu serentak, sambil terus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sudah selesai, mari kita belajar membaca,..sudah apa belum?" tanya Edi. "Sudah pak," jawab ibu-ibu itu sambil menghentikan aktivitasnya dan mulai memperhatikan papan tulis kapur berukuran 1x1 m yang ada di depan mereka. Edi pun mulai mengeja kata demi kata, diikuti oleh seluruh ibu-ibu. Sesekali mereka tertawa ketika ada kata-kata yang dianggap lucu. "KU,..DA,..LA,..RI dibaca apa?" tanya Edi. "KUDA LARI,.." jawab mereka. "Lho,..kalau kudanya lari ya dikejar," celoteh salah satu ibu, disambut tawa renyah ibu-ibu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirasa cukup, Edi meminta salah satu ibu untuk maju dan menuliskan namanya di papan tulis. Dengan malu-malu, seorang ibu bernama Sariye pun maju dan pelan-pelan menuliskan namanya. Meskipun huruf-huruf tampak tidak jelas, namun Sariye yang tidak pernah mengenyam pendidikan itu pun berhasil menulis namanya. "Wah,..kalau sudah pinter seperti ibu Sariye, bisa nulis SMS lho," celoteh salah satu ibu disambut tawa panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran di Kecamatan Wonosari, Bondowoso, Selasa (01/02) malam ini adalah satu dari 2000-an kelompok belajar pemberantasan buta aksara di Kota Bondowoso, Jawa Timur. Apa yang dilakukan kota berpenduduk 720 juta jiwa itu bukan tanpa alasan. Jawa Timur adalah provinsi di Indonesia yang memiliki jumlah warga buta huruf paling banyak. Urutan kedua disusul Jawa Tengah dan Jawa Barat. Hal itu dikatakan Menteri Pendidikan RI, Bambang Sudibyo di Surabaya, Jumat (13/01) lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bambang Sudibyo, dari 34 juta penduduk Jawa Timur, 29,2 persen atau sekitar 1,6 juta jiwa di antara tidak mengerti baca, tulis dan berhitung (calistung). "Jawa Timur terbanyak dalam buta aksara, sekitar 29,2 persen dari seluruh penduduk Jatim, disusul Jateng dan Jabar," kata Bambang Sudibyo. Karena itu, Bambang meminta pemerintah provinsi Jawa Timur untuk berkonstrasi dalam pemberantasan buta aksara, sebagai bagian dari program pemberantasan buta aksara nasional. Untuk program itu, pemerintah menyediakan anggaran Rp175 M -Rp.1 trilyun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, meskipun Jatim menempati urutan teratas dalam jumlah penderita buta aksara, tapi di salah satu kota di provinsi itu, Bondowoso juga merupakan kota dengan metode pemberantasan buta aksara terbaik di Indonesia. "Bondowoso melakukan proses pemberantasan buta aksara yang bagus dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat," kata Bambang memuji pelaksanaan pemberantasan buta huruf di kota berjarak 200-an KM dari Surabaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Bondowoso, Syarif Oesman hanya tersenyum ketika dikonfirmasi mengenai hal itu. Meski berterima kasih dengan penghargaan Menteri Pendidikan, tapi menurutnya, terobosan yang dilakukan di Bondowoso itu hanya sebagai upaya mengatasi problem di masyarakat. "Apa yang kami lakukan hanya mencari solusi dari banyaknya kemiskinan di Bondowoso, dan menurut kami hal itu bisa diselesaikan lewat pemberantasan buta aksara," katanya, pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bondowoso adalah salah satu kota termiskin di Jatim. Dari 720,1 ribu jiwa penduduk kota itu, 246,3 ribu jiwa diantaranya hidup di bawah garis kemiskinan. Faktor kemiskinan itu juga yang akhirnya membuat tingkat pendidikan di kota ini jauh tertinggal. Dari penduduk usia 15-44 tahun yang berjumlah 350 ribu jiwa misalnya, 53 ribu diantaranya menderita buta aksara. Begitu juga dengan penduduk usia 45 tahun keatas yang berjumlah 189,8 ribu jiwa, 111 ribu diantaranya tidak mengenal calistung. Jumlah total penderita buta huruf di kota itu adalah 164,8 ribu jiwa yang tersebar di 20 kecamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi geografis yang berbukit dan bergunung-gunung menjadi salah satu sebab rendahnya tingkat pendidikan di Bondowoso. Belum lagi tingkat kemiskinan yang tinggi, membuat masyarakat kota yang terapit pegunungan itu lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan fisik ketimbang pendidikan. "Tidak heran banyak sekali penduduk Bondowoso yang lebih memutuskan berhenti sekolah dan menikah pada usia dini, setelah itu bekerja sebagai petani," kata Syarif Oesman pada The Post. Belum lagi persoalan kurangnya jumlah guru yang mengajar di Bondowoso. "Saat ini ada terdapat 7318 guru yang mengajar di Bondowoso, kekurangannya sekitar 3 ribuan guru," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek yang bisa dirasakan dari kondisi itu adalah sulitnya pemerintah mensosialisasikan program pembangunan. Termasuk program peningkatan hasil pertanian di Bondowoso. Misalnya saja, ketika pemerintah ingin meningkatkan pendapatan petani dengan pemberian pupuk dan obat-obatan untuk tanaman persawahan. Tapi karena kebanyakan petani tidak bisa membaca, maka pemberian pupuk dan obat itupun tidak sesuai dosis. Hasilnya, peningkatan hasil petanian pun gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kondisi itulah, Bupati Bodowoso Mashoed mengumpulkan seluruh aparatur pemerintahan termasuk Kepala Kecamatan dari seluruh Bondowoso. Dalam pertemuan itu Mashoed memerintahkan seluruh Kepala Camat untuk mendata seluruh jumlah penduduk yang buta aksara. Tercatat terdapat Kecamatan Cerme dan Kecamatan Binakal tercatat sebagai kecamatan berpenduduk terbanyak buta aksara dengan 4886 dan 4156 jiwa. "Atas dasar survei itulah, diputuskan adanya gerakan pemberantasan buta huruf di empat kecamatan, Binakal, Wonosari, Grujukan dan Pajekan sebagai pilot project pemberantasan buta aksara," jelas Syarif Oesman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh elemen masyarakat, mulai Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI/Polri, Perangkat Desa, Muslimat/Fatayat NU, Aiyiah, tokoh masyarakat hingga aktifis LSM dikerahkan untuk menjadi tutor relawan gerakan pemberantasan buta aksara. Tempatnya pun menggunakan balai desa, mushola hingga rumah penduduk. Pemerintah Kota Bondowoso mengajukan anggaran APBD 2006 sebanyak Rp. 2 M untuk pemberantasan buta aksara. "Sejak program ini dicanangkan pada Agustus 2005 hingga sekarang,  Alhamdulillah banyak penduduk yang bisa membaca, kami yakin, tahun 2007 Bondowoso akan bebas buta aksara," kata Syarif Oesman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, Dhaniel Rosyied mengatakan untuk menghapus buta aksara di Jatim harus terlebih dahulu mengurangi pendidikan formalistik dan menggantikan dengan bentuk pendidikan berbasis ketrampilan. Karena pendidikan berbasis ketrampilan mampu membuat masyarakat merasa perlu bersekolah karena membutuhkan ketrampilan untuk bekerja. "Selama ini, masyarakat merasa sekolah tidak perlu karena hanya mendapatkan ilmu, dan bagi orang miskin, ketrampilan lebih penting daripada ilmu," kata Dhaniel pada The Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, harus diingat, pendidikan ketrampilan itu harus disesuaikan dengan karakter masyarakat setempat. Misalnya di lingkungan petani, ketrampilan yang diajarkan berbeda dengan ketrampilan di lingkungan nelayan. Untuk itu, Dhaniel menyarankan disiapkan tenaga guru yang juga memahami persoalan ketrampilan yang dimaksud. "Tenaga guru yang bisa mendidik secara formal dan ketrampilan tidak hanya menghapus buta aksara, tapi sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat dan pada akhirnya bisa berkarya," katanya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"INGIN BISA NULIS SMS," KATANYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan deras yang mengguyur Kota Bondowoso, Jawa Timur, Selasa (01/02) malam, tidak menyurutkan niat Suharna,45, untuk datang ke Sekolah Dasar (SD) Tangsil Wetan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso. Di salah satu ruangan SD itulah, setiap Selasa, Rabu dan Kamis digunakan warga sekitar untuk kelompok belajar pemberantasan buta aksara. "Assalamualaikum,.." sapa perempuan itu begitu memasuki ruangan kelas berukuran 7x7 m itu, dibalas salam tujuh ibu-ibu yang sudah terlebih dahulu datang di kelas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melipat payung lusuh yang dibawanya, perempuan berdarah Madura itu masuk kelas. Malam itu, Suharna duduk di bangku terdepan, di samping pintu. Sambil membetulkan letak jilbabnya, nenek satu cucu itu mengeluarkan buku tulis, pensil dan penghapus yang dibawanya, dan ditaruh di atas meja. "Malam ini kita akan belajar merangkai kata kan?" tanyanya dalam logat Madura kepada salah satu ibu yang duduk di sampingnya. "Iya,.. kemarinkan sudah membuat BA,..BI,..BU,.."jawab sang ibu. Suharna mengangguk dan membuka-buka buku tulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suharna adalah satu dari 47,6 ribu warga Bondowoso yang saat ini terlibat dalam gerakan pemberantasan buta aksara. Setiap minggunya, Suharna dan kelompok belajarnya yang terdiri dari 17 ibu-ibu yang kebanyakan domisili di sekitar lokasi pertemuan, bertemu di SD Tangsil Wetan untuk belajar baca, tulis dan berhitung (calistung). "Biasanya, kami datang dan tujuh malam dan pulang jam sembilan malam," kata Suharna pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan itu, menurut perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang kaki lima (PK5) itu berangkat dari keinginannya sendiri. "Saya sama sekali tidak pernah sekolah, makanya tidak bisa membaca sama sekali, kadang saya bingung kalau harus pergi ke kota sendirian,..nggak tahu jalan," katanya. Karena itulah, saat diumumkan akan ada kelas belajar membaca, Suharna berinisiatif untuk ikut. "Enak, belajar malam hari sama ibu-ibu yang lain," katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenalan dengan huruf dan angka, bagi Suharna dan kelompoknya, ibarat mengenal hal yang sama sekali baru. Dia mengaku sulit mengingat-ingat sati demi satu huruf 26 huruf abjad yang diperkanalkan. "Yang paling sulit mengingat-ngat huruf "w", "a" dan "e", huruf-huruf itu sepertinya sama bentuknya," katanya sambil tersenyum. Namun, Suharna mengaku bersyukur tutor yang mengajarinya tergolong sabar. "Gurunya baik dan sabar," katanya sambil berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski senang belajar membaca dan berhitung, Suharna mengaku agak bersedih karena suami yang sehari-harinya beternak bebek, serta anak perempuannya, tidak bersedia ikut dalam kelompok belajar membaca. "Makanya yang ikut hampir semuanya adalah ibu-ibu, bapak-bapaknya malu, dan memilih untuk tinggal di rumah," kata ibu satu anak dan satu cucu ini. Padahal, menurutnya, belajar membaca itu sangat penting, disamping bisa mengurus surat-surat, dan bisa tahu banyak hal. "Dulu, waktu saya tidak bisa membaca, tidak bisa tanda tangan di KTP, pakai cap jempol," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Suharna, Julirati,19, lebih memilih untuk tinggal di rumah dan mengurus anaknya. Meski tidak sempat melanjutkan sekolah ke bangku SMP, Julirati pernah bersekolah hingga kelas 6 SD. "Karena tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah, Julirati memilih untuk kawin, dan sekarang sudah punya anak, Sutiawati (6)," kata perempuan bertubuh langsing ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sadar dengan pentingnya bisa baca dan tulis, Suharna menginginkan cucunya, Sutiawati, untuk bisa membaca dan menulis. "Bisa membaca dan menulis itu ternyata penting, saya ingin cucu saya bisa sekolah,..nanti kalau cucu saya sudah besar kan bisa kirin SMS-an dengan saya," kata Suharna sambil tertawa. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114465657152938709?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114465657152938709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114465657152938709' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465657152938709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465657152938709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/04/bondowoso-bertarung-melawan-buta.html' title='Bondowoso Bertarung Melawan Buta Aksara'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114465648623895711</id><published>2006-04-10T01:07:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T01:08:06.310-07:00</updated><title type='text'>Media Menggaet Untung Dari Pilkada</title><content type='html'>Dengan serius, Yuwana, anggota tim sukses salah satu kandidat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Surabaya, mengamati sebuah harian lokal Surabaya. Dengan cekatan, tangan mantan wartawan media cetak terbitan Jakarta itu membolak-balik halaman per halaman koran setebal 24 halaman itu. Sesekali, matanya memicing ketika membaca berita tentang pilkada, kemudian kembali membolak-balik halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba telepon seluler yang terselip di kantong celananya berdering. "Halo,..saya sendiri, begini,..saya mau memasang iklan calon pilkada di koran kamu, tapi saya minta penempatannya di bagian atas, selain itu saya tidak mau," kata Yuwana tegas, sembari mendengarkan lawan bicaranya berbicara. "Oke, sekarang kamu ketemu saya saja," katanya mengakhiri pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan Pemilihan Kepala daerah (Pilkada) di Surabaya pada 27 Juni mendatang, membawa berkah tersendiri bagi media massa. Empat pasang kandidat yang Minggu (15/05) kemarin dirilis KPUD Surabaya, Alisjahbana-Wahyudin Husein (PKB), Bambang Dwi Haryono-Arif Afandi (PDIP), Erlangga Satriagung-AH Thony (PAN-PD) dan Gatot Sudjito-Benyamin Hilly (Golkar-PDS), bagaikan pundi-pundi uang bagi media massa. Terutama media massa cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka seakan berlomba menawarkan "paket hemat" sosialisasi atau iklan kampanye kepada empat pasangan kandidat, melalui tim sukses masing-masing. Data yang diperoleh The Jakarta Post dari sebuah sumber menyebutkan, hampir semua media massa cetak di Surabaya mengirimkan penawaran iklan. Tidak main-main, nilainya berkisar mulai Rp. 15 juta hingga Rp.300 juta untuk setiap paket yang ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu salinan surat tawaran kerjasama iklan kampanye yang didapatkan The Jakarta Post menyebutkan, dengan harga RP.300 juta, pasangan kandidat bisa mendapatkan berbagai fasilitas iklan. Mulai pemuatan semua berita aktivitas yang dilakukan kandidat, wawancara khusus hingga iklan satu halaman penuh. "Kami memberikan jaminan tidak akan memuat berita yang berisi black campaign pada kandidat yang bersangkutan," tulis salah pimpinan redaksi pada surat penawaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pasangan kandidat, sosialisasi melalui media massa adalah salah strategi yang harus dilaksanakan. Di samping efektif, berkampanye melalui media massa juga bisa menyentuh konstituen secara langsung. "Kami berpikir soal efektivitas media, karena itu kami mengambil tawaran itu, meskipun tidak semua," kata Djaka M tim sukses kandidat Erlangga Satriagung-AH Thony kepada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama diungkapkan tim sukses Bambang Dwi Haryono-Arif Afandi yang secara khusus punya arsitek media massa. "Iklan di media massa itu perlu strategi, hal itulah yang kami lakukan selama ini," ujar Saleh Mukadar, ketua tim sukses. Salah satunya, dengan menghindari terlalu sering memasang iklan di media massa. Kalau toh beriklan, pilihan hari, halaman dan materi iklan-nya harus pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi yang agak berbeda ditempuh oleh tim sukses dari Alisjahbana-Wahyudin Husein. Budiharto Tasmo, ketua tim sukses mengungkapkan pihaknya menolak semua tawaran iklan di media massa. Persoalan utamanya, keterbatasan dana yang dimiliki tim ini. "Kita tidak ada dana untuk beriklan di media massa," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, Budiharto mengungkapkan, iklan di media massa tidak begitu efektif atau tidak lebih sebagai "alat pengingat" bagi masyarakat atas calon yang beriklan. "Kami lebih percaya dengan mekanisme loyalitas partai yang dibangun melalui personal sale, kalau sudah loyal, mereka akan tetap akan memilih pasangan itu," tegas Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, Sunudyantoro menilai, meski diatur dalam UU Pilkada, persoalan iklan di media massa memiliki banyak kelemahan. AJI Surabaya mengati banyaknya berita yang sebenarnya berupa iklan terselubung. "Sering kali kita temukan iklan yang tersaji dalam bentuk berita, ini jelas pelanggaran," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, hampir setiap media massa memiliki halaman khusus tentang Pilkada. Bila dicermati betul, berita-berita yang disajikan lebih banyak berkisar tentang kegiatan para kandidat. "Tidak ada kritik, hanya wacana wacana tentang hal yang positif, apa bedanya dengan iklan? Hal ini malah membodohkan masyarakat pemilih," tegas wartawan media massa terbitan Jakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhimam Abror Jurait, ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur mengingatkan tentang perlunya menghidupkan firewall (dinding api) antara redaksi dan bagian iklan di media massa. Jangan sampai antara keduanya terjadi tindakan saling mempengaruhi. "Meskipun kandidat beriklan di sebuah media, bukan berarti fungsi kontrol redaksi berkurang," kata Abror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Abror memahami munculnya rasa ewuh pekewuh/ketidakenakan antara redaksi dan bagian iklan. Rasa ewuh pekewuh/ketidakenakan inilah yang pelan-pelan harus dikikis dengan mengingatkan kembali fungsi dan peranan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat media dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Kacung Marijan mengatakan, di Indonesia tingkat efektivitas beriklan di media massa masih sangat kecil. Apalagi, kebanyakan iklan pada kandidat tidak secara gamblang menyebutkan tindakan riil yang akan dilakukan bila mereka terpilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di AS, yang tingkat iklan politik di medianya berisi materi yang lebih lengkap, efektivitasnya hanya 10-20 persen saja, bagaimana dengan di Indonesia," katanya. Karena itu, tidak mengherankan bila nantinya pemenang pilkada bukan kandidat yang sering beriklan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Panwaslu Surabaya, Mahmud Suhermono mengatakan, pihaknya terus mengamati gerakan sosialisasi kandidat di media massa. Karena disinyalir, beberapa kandidat melakukan pelanggaran serius pencurian start kampanye. "Kami masih mempelajari, apakah iklan di media massa termasuk melanggar, kalau terbukti, maka ancaman pidana bisa dikenakan," tegasnya.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114465648623895711?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114465648623895711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114465648623895711' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465648623895711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465648623895711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/04/media-menggaet-untung-dari-pilkada.html' title='Media Menggaet Untung Dari Pilkada'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114465641468254186</id><published>2006-04-10T01:06:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T01:06:55.056-07:00</updated><title type='text'>Surabaya Menggagas Judi legal</title><content type='html'>Suasana agak berbeda tampak di lokasi permainan ketangkasan "M" yang terlerak di Surabaya pusat, Senin (18/07) malam lalu. Gedung yang biasanya hiruk pikuk dengan pengunjung berpakaian rapi itu kali ini sedikit senyap. Deretan mobil yang parkir di sekitaran gedung pun, tidak ada lagi. "Sejak berita tentang judi muncul, tamu jadi jarang kesini," kata seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya pada The Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu pemberantasan judi kembali marak, sejak Kapolri Jend Polisi Sutanto mengintruksikan jajarannya untuk memberantas perbuatan terlarang itu sampai ke akarnya. Target pertama, operasi akan dilakukan di tiga kota besar, Jakarta, Medan dan Surabaya. "Kalau ada Kepala Polisi Daerah (Kapolda) yang tidak bisa mampu melakukan itu, akan diganti dengan kapolda yang mampu," tegas Kapolri Sutanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak intruksi tentang pemberantasan judi itu dilakukan, banyak tempat judi di berbagai kota di Indonesia memilih untuk "tiarap". Meskipun dalam pengamatan The Jakarta Post, masih saja ada tempat judi yang nekad beroperasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Surabaya misalnya, ada belasan lokasi perjudian yang berkedok permainan ketangkasan yang tetap beroperasi. Sebut saja arena ketangkasan "M", "C" dan "PA" di salah satu plasa di Surabaya pusat. Belum lagi berbagai tempat ketangkasan di wilayah Simpang Dukuh, Kedungdoro, Mayjen Sungkono dan Sukolilo, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dari luar, tampak seperti tidak ada aktivitas, namun tetap saja permainan ketangkasan yang menggunakan uang sebagai sarananya bisa dilakukan. "Yang bisa masuk hanya pelanggan yang benar-benar kami kenal, dan member khusus," kata seorang pelanggan yang pada beberapa malam masih menikmati permainan judi di arena ketangkasan "M".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberantasan judi yang terkesan setengah hati itu menurut Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur Ali Maschan Moesa adalah tindakan yang jauh dari semangat Kapolri Sutanto. "Keinginan untuk memberantas maksiat harus dilakukan secara total, tidak seperti sekarang ini," katanya pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas perjudian di Jawa Timur terutama di Surabaya, kata Ali, sudah menjalar sampai keseluruh lapisan masyarakat. Mulai anak-anak, pelajar hingga pengusaha-pengusaha yang kerap kali bertaruh dengan uang yang tidak sedikit. "Kalau kenyataannya sudah seperti itu, apa bisa pemberantasan judi dilakukan hangat-hangat tai ayam (kadang serius, kadang tidak serius-red)," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengamatan The Jakarta Post, anak-anak dan pelajar pun bisa memanfaatkan judi jenis Dingdong, Mickey Mouse, Kino atau Kasino. Dengan memanfaatkan uang koin Rp.50,00 anak-anak itu bisa menghasilkan uang hingga Rp.60.000,00 dalam sekali permainan. Tidak hanya itu, sosok yang disebut-sebut sebagai bos judi Surabaya, FFD, dikenal dekat dengan beberapa pejabat di Surabaya dan terlibat dalam berbagai proyek pembangunan di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Ali Maschan menilai perlu ada langkah strategis untuk benar-benar menghapus perjudian di masyarakat. "Kalau memang tidak bisa menghapus seluruh praktek perjudian, apa tidak lebih baik dibangun lokasi yang khusus untuk pejudi, kalau yang ingin bermain judi bisa ketempat itu, tentu saja dengan aturan yang ketat dan tegas," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wakil Walikota Surabaya terpilih Arif Afandi, gagasan untuk membuat lokasi khusus perjudian itu bisa dilakukan di Surabaya. Di samping kondisi masyarakat yang masih bisa menerima perubahan, lokasi Surabaya yang berada di persimpangan lalu lintas laut mempermudah akses bagi wisatawan yang akan berkunjung di lokasi perjudian Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya, saya sudah berpikir soal itu, bahkan lokasinya pun sudah terbayang," katanya pada The Jakarta Post. Lokasi yang dimaksud, kata Arif adalah di lokasi Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) yang terletak di Surabaya utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arif menyadari ide membangun lokasi judi di Surabaya ini tergolong ide "gila". Namun, bila lokasi perjudian itu bisa terealisasi, uang pajak hasil perjudian itu bisa digunakan untuk membantu pelaksanaan pembangunan kota dan membantu rakyat miskin. "Para penjudi itu pasti tidak keberatan bila dipatok pajak besar, misalnya sampai 40 persen, nah,..uangnya bisa dimanfaatkan untuk pembangunan di Surabaya," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Arif menilai hal itu tidak akan mudah dilakukan. Apalagi secara institusional secara tegas Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) melarang adanya perjudian di Indonesia. Seperti yang tertuang dalam pasal 303 tentang perjudian dalam bentuk apapun. "Kalau mau fair, harusnya ada perubahan konstitusi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DPRD Kota Surabaya agaknya tidak sepakat dengan ide "gila" Arif Afandi. Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya Masduki Toha menilai pasal 303 KUHP jelas mengatur hal perjudian. Meski Toha mengakui sampai saat ini belum ada difinisi yang jelas tentang perjudian. "Karenanya DPRD Surabaya akan bertemu dengan kejaksaan, polisi dan dinas terkait untuk berbicara soal itu," jelasnya.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114465641468254186?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114465641468254186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114465641468254186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465641468254186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465641468254186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/04/surabaya-menggagas-judi-legal.html' title='Surabaya Menggagas Judi legal'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114465631489574345</id><published>2006-04-10T01:04:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T01:05:14.990-07:00</updated><title type='text'>Sampah Pun Berbuah Rupiah</title><content type='html'>Deru suara diesel dari mesin penghancur sampah sontak terdengar ketika Supardi,64, petugas tempat pembuangan sementara (TPS) kelurahan Jambangan Surabaya menyalakan mesin itu. Asap hitam pun keluar dari saluran knalpot, seiring dengan berputarnya pisau pemotong. "Sekarang waktunya kita memotong-motong sampah," kata Supardi pada The Jakarta Post, Senin(20/02) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambilnya segebok daun dan batang jagung yang mengeras dari tumpukan sampah yang berserak di samping mesin, dan dimasukkan ke dalam ruang pemotong yang terletak dibagian atas mesin itu. Krakkk,..dalam sekejap limbah dari rumah tangga itu berubah wujud menjadi serpihan-serpian berukuran 1x2 cm. Secara otomatis, serpihan itu keluar di bawah mesin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hasil rajangan (potongan) ini kemudian dimasukkan ke komposer, dalam waktu dua bulan sudah berubah menjadi kompos," kata Supardi. Kompos mentah itu kemudian dipanen, dan disaring menjadi kompos berukuran halus dan siap jual. "Satu kantong berukuran 1 KG, kompos dujual seharga Rp.600,00," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sehari, Supardi dan Suyadi,41, dua petugas TPS Jambangan, rata-rata mengumpulkan 2,5 ton sampah rumah tangga dari kelurahan Jambangan Surabaya. Setelah diolah, sampah-sampah itu bisa berubah menjadi 1 ton kompos siap jual. "Setiap panen, kurang lebih terjual Rp.600 ribu/2 bulan, uangnya digunakan untuk kebutuhan TPS, kalau ada sisa baru dibagikan kepada kami," kata Supardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Supardi adalah secuil gambaran program pengolahan sampah mandiri di kelurahan Jambangan, Surabaya. Program yang diprakarsai oleh Yayasan Unilever Peduli PT. Unilever, bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sejak 2002 itu pada intinya bertujuan untuk mengurangi sampah langsung dari sumbernya atau dari rumah tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masyarakat kami perkenalkan dengan konsep memilah sampah organik dan non organik langsung dari rumah," kata Okty Damayanti, General Manager Yayasan Unilever Peduli. Untuk sampah non organik biasanya langsung dijual kepada pemulung. Sementara sampah organik bisa langsung dihancurkan dengan menggunakan pisau dan dimasukkan ke dalam komposer yang disediakan khusus di setiap rumah di kelurahan Jambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposer rumah tangga yang dimaksud hanya berupa ember sampah yang tertutup rapat, yang bagian atasnya diberi pipa setinggi 3 meter. Pipa ini adalah saluran bau tak sedap yang dihasilkan dalam proses pembusukan sampah itu. Di bagian samping bawah, diberi lubang untuk memanen kompos.&lt;br /&gt;"Setiap hari, saya membuat sampah-sampah dari bahan masakan ke komposer itu," kata Supriyatun Jupri,44, warga Jambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski prosesnya terlihat sederhana, namun cukup rumit dalam pelaksanaannya. Terutama untuk merubah kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah. Apalagi masyarakat Jambangan terbiasa membuang sampah di sungai Berantas yang dekat dengan wilayah mereka. "Awalnya saya juga malas melakukan itu, memangnya saya pemulung," kenang Wiwik, 48. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saat masyarakat melihat hasil dari komposer dan hasil penjualan sampah non organik, pelan-pelan terjadi perubahan prilaku. Untuk masyarakat yang tidak memiliki cukup lahan untuk komposer rumah tangga, sampah yang sudah terpisah bisa dibuang ke TPS Jambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kini, lingkungan di Jambangan jadi lebih asri, kali-kali pun tidak kotor dan mampet," kata Wiwik. Tanaman di kawasan itu pun tampak sehat akibat diberi kompos yang dihasilkan dari komposer rumah tangga itu. Bantaran kali Sungai Berantas, khususnya yang melintas di wilayah Kelurahan Jambangan pun lebih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil yang paling membanggakan adalah diperolehnya penghargaan internasional Energy Globe Award 2005 dalam kategory Water untuk PT. Unilever atas pilot project di Kelurahan Jambangan. Menyisihkan 700 perusahaan dari seluruh dunia yang mengikuti program itu. "Meski diprakarsai PT. Unilever, ini kemenangan masyarakat Jambangan, semoga bisa mengurangi pencemaran di Surabaya," kata Walikota Surabaya Bambang DH yang bertekad mensosialisasikan program komposer di seluruh Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pencemaran air sungai di Surabaya oleh limbang domestik dan industri tergolong tinggi. Karena itu juga, intansi pengolahan air bersih di kota ini, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) hanya mampu menghasilkan air bersih. "Itu juga masih dibantu oleh air bersih dari sumber Umbulan, Pasuruan," ungkap Bambang DH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Lingkungan Hidup (KLH) Rachmat Witoelar menilai, apa yang dilakukan masyarakat Jambangan harus ditularkan ke seluruh Indonesia. "Ini sangat penting, karena persoalan sampah juga dihadapi oleh kota-kota lain," kata Rachmad Witeolar. Rachmad juga akan melibatkan perusahaan lain yang memiliki program community development agar lebih melibatkan rakyat dalam persoalan menjaga lingkungan. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114465631489574345?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114465631489574345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114465631489574345' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465631489574345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465631489574345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/04/sampah-pun-berbuah-rupiah.html' title='Sampah Pun Berbuah Rupiah'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114465624899681941</id><published>2006-04-10T01:02:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T01:04:09.530-07:00</updated><title type='text'>Malang Raya dan Lima TV Lokalnya</title><content type='html'>Warna meja bar "Agropolitan Cafe" belum semua tertutup dengan cat warna putih, biru dan merah bata. Lampu duduk yang harusnya terjajar rapi di atas meja pun masih berserak, terbalut kabel-kabel warna warni yang saling memilit. Beberapa petugas dekorasi lalu lalang merapikannya, sembari membubuhkan cat di bagian-bagian yang terkelupas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin setelah ini tampilannya bisa lebih menarik ya," kata Widarngresti, salah satu penyiar pada Rudy Kurniawan, Program Director acara "Agropolitan Cafe" yang siang itu mengomandani redekorasi setting panggung itu. Rudy mengangguk. Dengan cekatan laki-laki itu membantu salah satu petugas dekorasi yang kesulitan memasang salah satu bagian lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kesibukan yang tampak di studio luar Agropolitan Televisi (ATV) yang terletak di Jl. Sultan Agung, Batu, Jawa Timur, ketika The Jakarta Post mengunjunginya Jumat (25/08) siang ini. ATV adalah salah satu televisi lokal di wilayah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ATV, ada empat televisi lokal lain yang melakukan on air di wilayah berjarak 90 KM dari Surabaya itu. Malang TV, Mahameru TV, Gema Nurani TV dan Batu TV. Di mata pengamat komunikasi Universitas Airlangga (Unair) perkembangan dunia broadcast di kota kedua di Jatim itu tergolong luar biasa. "Untuk ukuran kota kedua, itu luar biasa," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi bila ditilik dari jumlah penduduk Malang Raya yang berjumlah.....ribu jiwa. Hal itu berarti, sebuah stasiun tv melayani.....ribu jiwa. Bukankah perbandingan yang luar biasa? "Mungkin ini jumlah televisi terbanyak di semua kota di Indonesia," kata Henry. Di Ibukota Jawa Timur Surabaya dengan penduduk jauh lebih banyak, saat ini hanya memiliki satu televisi lokal, Jawa Timur TV (JTV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGAM TV LOKAL LEBIH DIMINATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembangunan pertelevisian lokal di Malang Raya bisa menjadi catatan emas di Hari Nasional Televisi Indonesia 2005 yang jatuh pada 24 Agustus lalu. Diawali dengan pembentukan Batu TV pada pertengahan Maret tahun 2003 oleh seorang pengusaha asal kota Batu, Andri Hudiono. Ketika itu Andri yang memang sudah bergelut dengan dunia televisi sejak tahun 1998 berinisiatif memenuhi kebutuhan tayangan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya coba membeli peralatan sederhana di toko elektronik, saya rakit sampai akhirnya mengudara pertama kali di tahun 2003," kata sosok dipercaya untuk mengurus pemancar antena reciever TV nasional di Malang Raya ini pada The Jakarta Post. Kreativitas Andri membuahkan hasil yang luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Malang Raya yang sudah terbiasa dengan tayangan TV nasional pun pelan-pelan berubah melihat tayangan tv yang bermarkas di Bukit Oro-oro Ombo itu. "Apalagi ketika Batu TV menyiarkan siaran lokal, banyak yang suka," jelas Andri. Keberhasilan itu agaknya menular, beberapa bulan kemudian, berturut-turut hadir Agropolitan TV (ATV), Malang TV, Gema Nurani TV (GN TV) dan Mahameru TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Station Manager ATV, Hariyadi mengatakan, stasiun tv yang dipimpinnya sejak awal memposisikan diri sebagai sarana sosialisasi program Pemkot Batu. "Karena memang secara manajerial ATV berada di bawah infokom Pemkot Batu," katanya. Karena itulah, hampir semua acaranya difokuskan pada sosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, dibanding semua TV lokal di Malang Raya, ATV tergolong paling inovatif. Dari 52 program siaran yang ditayangkan mulai pukul 09.00-23.05, sekitar 80 persen adalah hasil garapan kru ATV dan ditayangkan melalui pemancar berkekuatan 1 KW dengan radius 1000 km. "Bukannya promosi, ATV adalah TV lokal pertama dengan jumlah siaran garapan sendiri paling banyak dibanding TV lokal lain, silahkan anda buktikan," kata Hariyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengamatan The Jakarta Post, program yang dimiliki ATV memang beragam. Mulai acara anak-anak bertajuk Kreatif Anak, siaran berita dua bahasa (Inggris-Indonesia) bertajuk Agropolitan News hingga seni tradisional Campursari Live. Dialog santai ala Mataraman pun disajikan layaknya pertemuan di tengah sawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan secara geografis itu pula yang membuat warga Malang menggemari tayangan lokal. Siti Kuwe, warga Kali Putih Malang adalah salah satu penonton setia tv lokal. Hampir setiap hari, perempuan yang sehari-hari berdagang jajanan khas Jawa Timur ini mengaku menonton siaran khas Malang. "Terutama kalau menyiarkan acara-acara yang terjadi di sekitar Malang, siapa tahu wajah saya muncul di televisi," kata Siti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROBLEM TENAGA KERJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena banyaknya jumlah tv lokal, secara otomatis menyerap banyak pula banyak tenaga kerja bidang broadcast di Malang. Minimal, untuk satu stasiun TV menyerap 50-60 tenaga kerja. Hal itu dikatakan Henny Elvandari, Direktur Utama Mahameru TV pada The Jakarta Post. "Maksimal 68 orang yang akan bekerja di Mahameru TV," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah yang sedikit, bila dibanding tv di Jakarta, menurut Henny terkait dengan jumlah kue iklan yang tersedia di Malang. "Dari sisi harga, jelas jauh lebih kecil, sekitar Rp.150-500 rb tiap 30 detik, jauh lebih kecil dari harga iklan di tv nasional di Jakarta," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama dikatakan Station Manager ATV, Hariyadi. Berbagai tempat wisata di Malang yang diharapkan menjadi pasar iklan potensial, justru menolak untuk beriklan di tv lokal. "Mereka lebih memilih untuk beriklan di tv nasional, akhirnya kami punya strategi untuk menyabet iklan kecil," kata Hariyadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu iklan kios-kios kecil di pasar. Agaknya, omset iklan yang dihasilkan stasiun tv lokal tergolong fantastik. Mahameru tv misalnya rata-rata memperoleh Rp.3,2 M pertahun, sementara ATV mengaku mendapatkan Rp.100 juta/bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, problem keuangan berimbas pada kesejahteraan pekerja tv lokal. Sumber The Post mengatakan rata-rata pekerja di stasiun tv lokal digaji Rp.400 ribu/bulan. Pendapatan yang kecil itu, menurut Bibin Bintiardi, Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Malang bisa mendorong pekerja untuk tidak profesional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau diperhatikan, seringkali wartawan tv lokal kurang kualitatif dalam memilih berita, alasannya gaji mereka kecil," kata Bibin pada The Post. Belum lagi soal perizinan. Sampai saat ini Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur belum mengeluarkan selembar pun surat izin siaran dan izin frekuensi.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114465624899681941?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114465624899681941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114465624899681941' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465624899681941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465624899681941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/04/malang-raya-dan-lima-tv-lokalnya.html' title='Malang Raya dan Lima TV Lokalnya'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114465608933873799</id><published>2006-04-10T01:00:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T01:01:29.343-07:00</updated><title type='text'>Jember Bermimpi Menjadi Rio De Jeneiro</title><content type='html'>Udara dingin sontak menyeruak masuk, ketika Nadia membuka daun pintu rumahnya di Jl. Fatahillah Jember, Minggu (07/08) pagi. Beberapa pemuda bertelanjang dada dan bercelana pendek yang duduk di sofa lusuh dalam ruang tamu mendekapkan keduatangannya di depan dada sambil menggigil kedinginan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga beberapa gadis usia belasan tahun yang tampak berantakan karena riasan yang belum selesai. "Eh wartawannya, silahkan masuk, sorry berantakan kami harus mempersiapkan diri untuk acara nanti siang," kata gadis berusia 25 tahun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadia adalah salah satu tukang rias yang juga leader group Spanyol yang akan berpastisipasi dalam Jember Fashion Carnaval (JFC) ke-4 yang digelar di Jember, Minggu (07/08) ini. Sejak dinyatakan lolos seleksi sebagai peserta JFC-4, dia bersama puluhan temannya serius mempersiapkan diri untuk berdandan khas Negara Spanyol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai belanja bahan pakaian plus peralatan tambahan seperti tongkat, tali warna-warni hingga rumbai-rumbai yang dibuat dari tali rafia. Kesibukan semakin padat menjelang hari H. "Dari Sabtu malam saya belum tidur untuk mempersiapkan ini," katanya pada The Jakarta Post sambil terus mengoleskan cat di tubuh (body painting) salah satu peserta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JFC adalah sebuah event pagelaran busana yang diikuti sekitar 450 peserta. Selain jumlah peserta yang jauh lebih banyak dari pagelaran busana pada umumnya, catwalk-nya pun berupa jalan protokol yang ada di pusat kota Jember sepanjang 3,6 KM. Tak heran bila jumlah penonton pun diperkirakan hingga 100 ribu orang yang berdiri di sepanjang jalan protokol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vice President JFC Dynand Fariz menjelaskan, JFC berawal dari keinginan untuk menjadikan Jember sebagai Kota Wisata Mode Pertama di Indonesia. "Seperti Rio De Jeneiro yang juga ada festival busana, di Indonesia ada Jember Fashion Carnaval," ungkap Fariz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhasan acara yang sudah empat kali digelar di Kota Tembakau ini adalah tema busana yang ditampilkan yang berorientasi pada trend fashion dunia. Tahun ini, JFC mengusung tema Anachronic, Energetic, Cic Tonic, Mime Tic dan Striptic. "Busana dibagi menjadi kelompok Archipelago, Tsumani, Discontruction, Grand Prix, Egypth, Spain, England dan Caribbean," kata Fariz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat Bupati Jember Sjahrazad Masdar mengatakan, cita-cita besar Kabupaten Jember itu jelas tidak akan mudah bisa terlaksana. Karena tantangan yang dihadapi begitu banyak. "Salah satunya, image Pulau Bali yang masih nomor satu, Jember harus bisa mengalahkan Pulau Bali," katanya pada The Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Dinas Pariwisata Kabupaten Jember mencapat, setiap tahunnya daerah yang memiliki lima pantai wisata, tiga air terjun dan wisata perkebunan yang luas ini dikunjungi oleh 1400 turis mancanegara dan 332 ribu turis domestik. "Saya perkirakan, pada massa mendatang, akan semakin banyak turis asing yang awalnya akan ke Bali akhirnya berbelok ke Jember," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya JFC, Masdar memperkirakan Jember akan semakin dikenal di manca negara. Dalam pengamatan The Jakarta Post, harapan itu bukan harapan semu. Dalam JFC yang berlangsung Minggu ini, tampak warga negara asing yang hadir di tengah-tengah penonton untuk menikmati rangkaian acara JFC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lou Leunissen adalah salah satunya. Wisatawan asal Netherlands yang juga fotografer freelance ini mengatakan kedatangannya kali ini khusus untuk menyaksikan JFC. "Saya sudah pernah bertemu dengan beberapa peragabusana di Bali, dan kini saya datang ke Jember untuk melihat mereka lagi," katanya pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lou tampak terkesima dengan lagelaran busana yang penuh dengan beragam nuansa ini. Ia bahkan memenuhi memory card dua kamera digital yang dibawanya. "Saya sudah memotret banyak sekali, sampai tidak terasa saya kehabisan bateray digital camera saya, sayang sekali," keluhnya sambil menyaksikan pagelaran dari trotoar jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya Lou, wisatawan domestik yang datang ke JFC juga hanyut dalam irama pegelaran busana unik ini. Terutama ketika pagelaran busana masuk pada tema Tsunami yang bercerita tentang kengerian peristiwa yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu. Beberapa penonton bahkan wartawan sampai menitikkan air mata ketika puluhan peragabusana beraksi. JFC memang luar biasa.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114465608933873799?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114465608933873799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114465608933873799' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465608933873799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465608933873799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/04/jember-bermimpi-menjadi-rio-de-jeneiro.html' title='Jember Bermimpi Menjadi Rio De Jeneiro'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114465602364192742</id><published>2006-04-10T00:59:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T01:00:23.646-07:00</updated><title type='text'>Penjebar Semangat Bertahan di Tengah Badai</title><content type='html'>Senajan kahanan ekonomi rada rekasa, ning yen gelem ubed,&lt;br /&gt;Sethithik-sethithik ana wae pametu kang bisa dipethik.&lt;br /&gt;Ora lanang ora wadon, ora anom ora tuwa, ayo podha sengkud makarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan berbahasa Jawa itu menjadi pembuka majalah Penjebar Semangat edisi 7, 8 Februari 2006. Artinya "Meskipun keadaan ekonomi agak berat, tapi kalau mau kreatif, sedikit-sedikit ada saja sesuatu yang bisa dipetik. Tidak perduli laki-laki maupun perempuan, mari bekerja dengan giat". Kalimat yang dimuat di halaman 3 majalah setebal 58 halaman itu seakan ingin menjelaskan sikap optimistik seorang perempuan pemuat gerabah yang fotonya dimuat sebagai cover depan majalah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang mengatakan dicokot-cokot alot (digigit-gigit keras), seperti itulah orang Jawa memandang pendapatan yang pas-pasan tapi tetap ada meski kondisi perekonomian sedang berat," kata Moechtar, 81, Pimpinan Redaksi Penjebar Semangat pada The Jakarta Post, Minggu (12/02) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Penyebar Semangat dan Majalah Joyoboyo, adalah dua media massa di Jawa Timur yang hingga saat ini masih mengusung Bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar. Keberadaan dua media berbahasa Jawa ibarat di era serba canggih seperti sekarang ini ibarat artefak sejarah yang sampai saat ini masih bisa dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjebar Semangat didirikan oleh salah satu tokoh gerakan Sumpah Pemuda, Dr.Soetomo di tahun 1930 di Surabaya. Awalnya majalah itu terbit dalam bentuk koran bernama Soeara Oemoem dengan RT Tjindarboemi sebagai pimpinan redaksinya. Di Surabaya, perkembangan koran yang sarat dengan kritik terhadap Penjajah Belanda ini tergolong baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun kemudian, Dr.Soetomo berinisiatif menerbitkan Soeara Oemoem dalam bahasa Jawa dan Madura, dengan Ir. Anwari dan RP Sosrokardono duduk di jajaran redaksi. Setelah dianggap memiliki pasar yang kuat, nama Soeara Oemoem diubah menjadi Penjebar Semangat dengan format majalah. &lt;br /&gt;Pertama kali merubah nama dan format adalah masa berat bagi media yang memiliki moto Sura Dira Djayadiningrat Lebur Dening Pangastuti (Kejahatan Seberapapun Kuatnya Akan Kalah Dengan Kebenaran) ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa saat mereka hanya mencetak sebanyak 2000 eksemplar. Namun, tiga tahun kemudian, perkembangan luar biasa terasa. Oplah meningkat bertahan menjadi 6-12 ribu eksemplar/minggu di tahun 1936. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah yang luar biasa untuk sebuah media berbahasa Jawa di jaman itu. Tak mengherankan bila Penjebar Semangat cukup berpengaruh di masyarakat. Karena itulah, ketika Penjajah Jepang masuk ke Surabaya, Penjebar Semangat menjadi salah satu majalah yang ditutup paksa. Mesin cetak yang dimiliki disita dan Pimpinan Redaksinya, Imam Soepardi (yang menggantikan Dr. Soetomo setelah meninggal dunia pada 1938) mengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas tahun kemudian, tepatnya di tahun 1949, ketika Jepang tersingkir digantikan Agresi Belanda II, Imam Soepardi nekad keluar dari pengasingan dan kembali menerbitkan Penjebar Semangat. Meski sempat merangkak dari nol, Penjebar Semangat kembali menemui masa jayanya dengan oplah 88 ribu eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya masih merasakan bagaimana majalah ini begitu terkenal," kata Effendi,83, pekerja bagian Tata Usaha Penjebar Semangat yang hingga saat ini masih bekerja di majalah itu pada The Post. Effendi adalah pekerja terlama di perusahaan itu. Tidak hanya di Indonesia, majalah yang konsisten mengusung cerita rakyat Tanah Jawa itu juga memiliki pelanggan hingga ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat pelanggan di Suriname, Keladonea Baru, Malaysia, Bangkok, Birma dan Vietnam secara kontinyu tetap berlangganan. Kebanyakan, pembaca Penjebar Semangat di luar negeri itu adalah keluarga penduduk asli Jawa yang dibawa secara paksa oleh penjajah Belanda untuk dipekerjakan sebagai pekerja paksa. "Mereka tidak ingin tercerabut dari akar kebudayaan Jawa, karena itu mereka berlangganan Penjebar Semangat," ungkap Moechtar, Pimpinan Redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan sinar matahari yang meredup di sore hari, kebesaran nama Penjebar Semangat pun pelan-pelan pudar. Moechtar mencatat, salah satu hal yang membuat majalah yang dipimpinnya kurang diminati terkait dengan persoalan ekonomi. Keputusan untuk menaikkan harga bersamaan dengan kenaikkan harga bahan baku seperti kertas dan tinta, membuat pelanggan majalah ini berhenti berlangganan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1990 menjadi awal grafik penurunan oplah majalah ini. Tiras 80-an ribu pelan-pelan menurun hingga puncaknya terjadi pada tahun 1997 dengan 20 ribu. "Selain persoalan harga, kurangnya minat membaca bahasa Jawa pada generasi muda juga menjadi persoalan," ungkap Moechtar. Dalam survei yang dilakukan pihak pemasaran, hampir pasti setiap keluarga pelanggan yang berhenti berlangganan terjadi setelah pembaca majalah itu meninggal dunia. Sementara keturunannya beralih ke media berbahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terdengar tragis, namun keoptimisan masih terlihat pada jajaran redaksi Penjebar Semangat. Salah satu penyebabnya, adalah masih adanya modal usaha yang berhasil dikumpulkan di masa majalah itu masih jaya. Seperti aset mesin cetak dan gedung perkantoran di lokasi pusat kota Surabaya yang dimiliki majalah itu. "Sekarang, kami berpikir bagaimana redaksi menjaga eksistensi majalah ini dengan tetap terbit," kata Moechtar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat itu pula yang membuat Penjebar Semangat terus menyapa pembacanya di awal minggu. Dan "buah" dari keoptimisan itu mulai bisa dipetik. Memasuki tahun 2000, kondisi oplah mejalah ini mulai konstan di titik 20 ribuan dan semuanya adalah pelanggan setia. Dalam pengamatan The Jakarta Post, semua majalah yang dicetak, langsung dikirim via pos ke alamat pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, pelanggan dari luar negeri yang sempat berhenti berlangganan pun kembali meminta berlangganan. Selain dari pribadi, pelanggan Penjebar Semangat juga berasal dari universitas-universitas di luar negeri yang mempelajari bahasa asli di seluruh dunia, termasuk  bahasa Jawa. "Mereka biasanya mengirim uang dollar dulu sebagai deposit, kemudian meminta kami mengirim majalah ke alamat yang dituju, kalau uang dollarnya sudah menipis, pihak pemasaran akan menelepon dan minta deposit lagi," ungkap Moechtar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi penulis bahasa Jawa, Moechtar melihat munculnya penulis-penulis muda yang mengirimkan karyanya ke Penjebar Semangat. "Setiap ada anggota redaksi yang tidak mampu lagi bekerja, entah itu karena sakit atau meninggal dunia di usia tua, pasti ada penggantinya," kata pimpinan redaksi yang memimpin delapan awak redaksi dan puluhan penulis lepas (koresponden) di seluruh Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas bila Moechtar merasa bangga dengan hal itu. Karena keterlibatan penulis muda itu didasari oleh ketertarikan pada satra Jawa, tanpa ada orientasi materi di dalamnya. Untuk koresponden, Penjebar Semangat memberikan honor sebanyak Rp.50 ribu/tulisan dengan dua foto. Termasuk tulisan berjenis cerita pendek. "Nilai itu memang kecil, jadi munculnya penulis-penulis muda sangat membanggakan," kata salah satu pemrakarsa Konggres Bahasa Jawa di Semarang tahun 1961 ini. Bagi anggota redaksi yang sudah bekerja puluhan tahun pun, hanya digaji sebanyak Rp.1,2 juta/bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedikasi redaksi media berbahasa Jawa seperti Penjebar Semangat dan Joyoboyo memang patut diacungi jempol. Selain mempertahankan budaya yang mulai luntur, media berbahasa Jawa juga mengusung nilai-nilai luhur yang dianut orang Jawa selama ratusan tahun. Belum lagi sumbangan media ini bagi Negara Indonesia ketika perang kemerdekaan berkecamuk.Bahkan,  Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno pun secara khusus berkirim surat tulisan tangan dalam bahasa Jawa pada Penjebar Semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kabeh madjalah kang mbijantu marang perdjoangan nasional gedhe gunane, Ta' dongakake mogo-mugo Penjebar Semangat lestari mbijantu perdjoangan kita iki (Semua majalah yang membantu perjuangan nasional besar manfaatnya, Saya berdoa semoga Penjebar Semangat terus ada dan membantu perjuangan kita ini)," tulis Ir. Soekarno dalam surat yang kini dibingkai dan dipajang di ruang redaksi Penjebar Semangat.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114465602364192742?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114465602364192742/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114465602364192742' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465602364192742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465602364192742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/04/penjebar-semangat-bertahan-di-tengah.html' title='Penjebar Semangat Bertahan di Tengah Badai'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25763539.post-114465597054911807</id><published>2006-04-10T00:58:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T00:59:30.560-07:00</updated><title type='text'>Siswa-siswa itu Tidak Lulus Ujian Nasional</title><content type='html'>Ninik (bukan nama sebenarnya) menenggelamkan wajahnya dipelukan temannya. Airmata yang mengalir dari kedua matanya, sebagai bentuk kesedihan yang mendalam, seakan tidak berhenti. "Sudahlah Nik, jangan menangis, ayo kita pulang," kata temannya. Ninik hanya sesenggukan, tanpa berkata apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis (30/06) ini bisa jadi hari paling buruk dalam hidup Ninik. Disaat sebagian besar temannya merayakan kelulusan, gadis siswa sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Surabaya Pusat itu dinyatakan tidak lulus. Nilai standart minimum yang dimilikinya jauh dibawah nilai standart minimum yang disyaratkan, 4.26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, ketika dia belum mendapatkan informasi kelulusan, beberapa temannya sudah membubuhkan tanda tangan di baju seragamnya. Bahkan, ada juga yang menyemprotkan cat semprot warna-warni sebagai kenang-kenangan. Tapi lacur, ketika pihak sekolah mengumumkan nama-nama siswa yang lulus, nama Nanik tidak ada dalam daftar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah siswa SMA di Surabaya yang tidak lulus dalam Ujian Nasional mengalami peningkatan. Tahun 2004 lalu hanya 566 siswa, sementara tahun ini meningkat menjadi 2555 siswa. Sementara di Jatim, tercatat ada 31 ribu siswa SMA, dengan perincian 4400 siswa jurusan IPA, 5180 siswa jurusan IPS, 1100 siswa jurusan bahasa dan 21090 siswa jurusan SMK. Serta siswa SMP sebanyak 24300 siswa. Jumlah total sekitar 56 ribu siswa di Jatim tidak lulus ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Diknas Jatim, Rasiyo menilai, meningkatnya jumlah siswa yang tidak lulus tahun 2005 ini sebagai akibat dari naiknya standart nilai kelulusan dari 4.01 menjadi 4.26. Belum lagi dengan dihapusnya sistem konversi (menurunkan nilai tertinggi dan menaikkan nilai yang rendah). "Semua itu akibat dari naiknya standart nilai kelulusan," kata Rasiyo. Meski begitu, Rasiyo menilai ketidaklulusan itu adalah hal biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, kata Rasiyo, jumlah siswa di seluruh Indonesia yang tidak lulus tahun ini tergolong banyak, sampai 16,69 persen dari seluruh siswa SMA/SMK di Indonesia yang ikut ujian tahun 2005. "Jadi hasil ujian di Jatim tidak terlalu jelek untuk ukuran nasional," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk siswa yang tidak lulus, ungkap Rasiyo, masih diberi kesempatan sekali lagi untuk ikut dalam Ujian Nasional II yang akan digelar Agustus mendatang. "Bagi yang sudah lulus, tidak usah ujian tahap II, tapi yang tidak lulus bisa mengikuti ujian tahap II, kalau bisa mencapai standart 4.26 bisa dianggap lulus," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Dewan Pendidikan Surabaya, Anita Lie mengungkapkan, besarnya jumlah siswa yang tidak lulus ujian nasional, harusnya menjadi koreksi sistem pendidikan secara nasional. Bahwa sistem pendidikan selama ini salah. "Ini harus jadi koreksi, bahwa sistem pendidikan yang dilakukan secara nasional, salah," katanya pada The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kesalahan yang nyata adalah peningkatkan standart nilai 4.01 menjadi 4.26, tanpa mempertimbangkan faktor budaya yang berbeda. "Misalnya siswa di daerah Papua dan Jawa, harusnya tidak diperlakukan sama, bukan kwalitas pendidikannya, melainkan cara mengajarnya," tegas dosen Universitas Kristen Petra ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tahun-tahun berikutnya, Anita menyarankan pemerintah pusat tidak lagi mendikte pelaksanaan pendidikan di semua daerah. Karena setiap daerah punya ciri khas tersendiri. "Yang berhak menyatakan kelulusan itu adalah sekolah yang bersangkutan, pemerintah nasional hanya memberikan platform, sistem dan pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya pada sekolah setempat," katanya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMOGA KALI INI BERHASIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debu-debu di kursi tua itu beterbangan ketika tubuh munggil Gusti Ayu di duduk di atasnya. Raut mukanya terbalut kelelahan, berpadu dengan t-shirt dan celana jeans lusuh yang dikenakan. "Capek, harus les setiap hari," katanya pada The Jakarta post yang menemui di rumahnya, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (20/08) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gusti Ayu Netty Christina adalah satu dari 31 ribu siswa SMA di Jawa Timur yang tidak lulus Ujian Nasional tahap I tahun ajaran 2005-2006 yang dilaksanakan bulan Juni lalu. Data yang dilansir Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) Jawa Timur menyebutkan terdapat 31 ribu siswa SMA tidak lulus ujian nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rincian, 4.400 siswa jurusan IPA, 5.180 siswa jurusan IPS, 1.100 siswa jurusan bahasa dan 21.090 siswa jurusan SMK. Sementara untuk siswa SMP sebanyak 24.300 siswa yang gagal memenuhi nilai minimal dan tidak lulus. Jumlah total sekitar 56 ribu siswa di Jatim yang tidak lulus Ujian Nasional dan harus mengikuti ujian ulangan yang akan berlangsung Senin minggu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Gusti Ayu, ujian ulangan yang akan berlangsung minggu depan ini bagaikan mengulangi "mimpi buruk" yang pernah dialaminya. "Ujian ulangan ini seperti mimpi buruk yang terulang, apalagi ketika ujian sebelumnya saya gagal lulus," kata siswa SMA Dharma Wanita Surabaya ini sambil menghela napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Ujian Nasional lalu, nilai NUN Gusti cuma 3,33, jauh dari nilai rata-rata minimum yang disyaratkan agar bisa lulus, 4,26 untuk setiap mata pelajaran. "Nilai matematika saya jeblok, itu yang membuat saya akhirnya tidak lulus," katanya. Sayangnya, Gusty malu menjelaskan nilai matematika yang diperolehnya. "Yang pasti, di bawah rata-rata lah," katanya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dinyatakan tidak lulus, dirinya harus berhadapan dengan berbagai persoalan sekaligus. Terutama menutup rasa malu dihadapan teman-teman dan keluarganya. "Kalau pihak keluarga sudah bisa memahami, tapi menghadapi teman-teman itu yang sulit," katanya. Beruntung, dirinya tidak sendirian, ada 77 siswa lain di sekolahnya yang juga tidak lulus ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, berdasarkan "aturan main" Depdiknas, bagi siswa yang tidak lulus Ujian Nasional tahap I, masih diberi kesempatan sekali lagi untuk ikut dalam Ujian Nasional II yang akan digelar Agustus mendatang. "Bagi yang sudah lulus, tidak usah ujian tahap II, tapi yang tidak lulus bisa mengikuti ujian tahap II, kalau bisa mencapai standart 4.26 bisa dianggap lulus," kata Rasiyo, Kepala Diknas Jatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan itu yang tidak disia-siapan Gusti Ayu dan kawan-kawannya. Setiap hari, dirinya dan ke-77 teman-temannya diberi les privat oleh pihak sekolah selama seminggu penuh. "Setiap hari, ketika teman-teman yang lulus ujian sudah mendaftar ke universitas, saya masih harus let privat di SMA saja," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam les privat itu, dirinya diingatkan kembali dengan materi-materi pelajaran yang diajarkan secara singkat. Setelah itu, diberi kesempatan bertanya kepada gurunya. Bila dirasa cukup, guru akan memberikan contoh soal yang harus dikerjakan di sekolah dan di rumah sebagai pekerjaan rumah (PR). "Capek juga sih, tapi bagimana lagi ini untuk masa depan saya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Ujian Nasional tahap II yang akan berlangsung minggu depan, Gusti hanya bisa pasrah. "Semua usaha sudah saya lakukan, semoga kali ini berhasil," harap gadis berusia 18 tahun dan bercita-cita sebagai sarjana ekonomi ini.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25763539-114465597054911807?l=idnugrohospecialreport.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/feeds/114465597054911807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25763539&amp;postID=114465597054911807' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465597054911807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25763539/posts/default/114465597054911807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idnugrohospecialreport.blogspot.com/2006/04/siswa-siswa-itu-tidak-lulus-ujian.html' title='Siswa-siswa itu Tidak Lulus Ujian Nasional'/><author><name>iddaily[dot]net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
